“Pada bulan Oktober masa jabatan saya sebagai presiden akan berakhir. Dan pada kesempatan yang baik ini izinkan saya memperkenalkan presiden terpilih Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, yang saat ini menjabat sebagai Menteri Pertahanan, yang akan meneruskan komitmen Indonesia untuk berkontribusi terhadap pengelolaan air dunia,” ucap Jokowi disambut tepuk tangan gemuruh di hadapan Presiden World Water Council Loïc Fauchon dan juga dihadiri oleh Elon Musk, Ketua DPR RI Puan Maharani dan peserta forum.
Jokowi menyatakan dalam forum inu harus menjadi momentum negara-negara di dunia untuk merevitalisasi aksi nyata dan komitmen bersama dengan berbagi pengetahuan, mendorong solusi inovatif, dan mewujudkan manajemen sumber daya air terintegrasi.
Dalam pertemuan dihadiri berbagai negara ini Jokowi memperkenalkan sistem pengairan di Bali yang dikenal dengan nama subak.
“Masyarakat kami memiliki nilai budaya terhadap air, salah satunya adalah sistem subak di Bali yang dipraktikkan sejak abad 11 yang lalu dan diakui sebagai warisan budaya dunia,” ungkap Jokowi yang mantan Gubernur DKI Jakarta dan Wali Kota Solo ini.
Lebih lanjut dijelaskan, bagi masyarakat Bali air adalah kemuliaan yang mengandung nilai-nilai spiritual dan budaya yang harus dikelola bersama. Hal tersebut sesuai tema forum ini, yaitu “Air bagi Kemakmuran Bersama," sebut Jokowi.
Baca Juga: Berkat Comeback di Quarter Kedua, Bali United Basketball Petik Kemenangan Beruntun
Hal itu lanjutnya, dapat dimaknai menjadi 3 prinsip dasar. Yaitu, menghindari persaingan dan mendorong pemerataan;mengedepankan kerja sama inklusif, termasuk penggunaan teknologi dan pembiayaan inovatif;serta menyokong perdamaian dan kemakmuran bersama.
"Ketiga prinsip itu hanya bisa terwujud dengan sebuah kata kunci, yaitu kolaborasi," tukas Jokowi
Di hadapan peserta World Water Forum ke-10 Presiden Jokowi mengungkapkan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, Indonesia telah memperkuat infrastruktur air seperti membangun 42 bendungan, 1,18 juta hektar jaringan irigasi. Kemudian merehabilitasi seluas 4,3 juta hektare jaringan irigasi dan membangun 2.156 kilometer pengendali banjir dan pengaman pantai.
Baca Juga: Tak Ada Pilihan Lain, Selamatkan Mental Rebut Juara Tiga Liga 1 2023/2024
Indonesia juga memanfaatkan air untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata. PLTS ini menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.
“Persoalan air dan sanitasi akan semakin berat di masa mendatang. Upaya ini harus diperkokoh di tingkat global baik oleh negara, sektor swasta, maupun masyarakat madani,” ujar Jokowi.
Disampaikan Pemerintah Indonesia konsisten mendorong tiga hal; Pertama, meningkatkan prinsip solidaritas dan inklusifitas untuk mencapai solusi tantangan bersama terutama bagi negara-negara pulau kecil yang mengalami kelangkaan air.
Kedua, memberdayakan hydro-diplomacy untuk kerja sama konkret dan inovatif sesuai kebutuhan negara penerima disamping mencegah persaingan dalam pengelolaan sumber daya air lintas batas berdasarkan hukum internasional.
Ketiga, adalah memperkuat political leadership sebagai kunci dalam menyukseskan berbagai bentuk kerja sama menuju ketahanan air yang berkelanjutan.
Untuk itu Indonesia mengangkat empat inisiatif baru, yaitu penetapan World Lake Day, pendirian Center of Excellence di Kawasan Asia Pasifik untuk ketahanan air dan iklim, tata kelola air yang berkelanjutan di negara-negara pulau kecil, dan penggalangan proyek-proyek air untuk memastikan komitmen politik kita menjadi aksi nyata.
Sementara itu Presiden World Water Council Loïc Fauchon mendorong para kepala negara dan delegasi yang hadir untuk memasukan hak terhadap air ke dalam konstitusi, hukum, dan peraturan di negara masing-masing.
Hal tersebut dikatakannya akan mempercepat terwujudnya keadilan untuk akses air dan sanitasi di seluruh dunia.
“Sehingga, selangkah demi selangkah, kita bisa mengusulkan agar hak atas akses terhadap air dapat ditegakkan bagi semua orang,” ujar Loic.
Baca Juga: KIM dan Nasdem Karangasem Galang Konsolidasi, Mengaku Masih Pertemuan Awal
Dalam mengakhiri sambutannya, Loïc Fauchon pun menyerukan tindakan internasional untuk memastikan tata kelola yang lebih aktif dan terdesentralisasi berdasarkan kerja sama multilateral.
“Sebagaimana yang dilakukan dalam forum ini, yang juga penting untuk memperkuat aturan mediasi untuk sungai, danau, dan DAS. Diplomasi air sejatinya membawa kedamaian di tepian, alih-alih membawa perang ke sungai,” tandasnya.
Sebagai hasil dari forum akan disahkan deklarasi menteri yang berisikan tiga kepentingan nasional Indonesia. Yakni, pengusulan Hari Danau Sedunia, pendirian Center of Excellence untuk ketahanan air dan iklim, dan mengangkat isu pengelolaan sumber daya air secara terpadu pada pulau-pulau kecil.***
Editor : M.Ridwan