Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dari Perang Korea hingga Konflik Iran-Israel: Memahami Peran dan Batasan Gencatan Senjata

Dhian Harnia Patrawati • Selasa, 24 Juni 2025 | 17:53 WIB
ESKALASI KONFLIK - Asap mengepul saat ratusan jet temput Israel menyerang puluhan target strategis di Teheran pada Jumat malam.
ESKALASI KONFLIK - Asap mengepul saat ratusan jet temput Israel menyerang puluhan target strategis di Teheran pada Jumat malam.


RADAR BALI - Gencatan senjata adalah penghentian sementara pertempuran atau konflik bersenjata yang disepakati oleh pihak-pihak yang bertikai.

Ini bukan akhir dari perang, melainkan jeda krusial yang memungkinkan berbagai hal, mulai dari pengiriman bantuan kemanusiaan hingga pembukaan pintu negosiasi.

Tujuan utamanya adalah untuk mengurangi korban jiwa, mencegah eskalasi konflik lebih lanjut, dan menciptakan ruang bagi dialog diplomatik untuk mencari solusi jangka panjang.

Gencatan Senjata vs. Perjanjian Damai: Apa Bedanya?

Seringkali, istilah "gencatan senjata" dan "perjanjian damai" disamakan, padahal keduanya memiliki makna dan implikasi yang berbeda secara signifikan:

Gencatan Senjata: Bersifat sementara dan terbatas pada penghentian permusuhan. Ini bisa berupa kesepakatan informal atau formal untuk menghentikan tembak-menembak dalam jangka waktu tertentu.

Fokusnya adalah pada jeda operasional militer dan seringkali menjadi prasyarat untuk langkah-langkah selanjutnya menuju perdamaian. Gencatan senjata dapat dibatalkan jika salah satu pihak melanggar kesepakatan atau jika negosiasi gagal.

Perjanjian Damai: Merupakan kesepakatan komprehensif dan permanen yang secara resmi mengakhiri perang atau konflik.

Perjanjian ini membahas isu-isu akar penyebab konflik, termasuk perbatasan, pembagian kekuasaan, ganti rugi, penarikan pasukan, dan normalisasi hubungan.

Perjanjian damai bertujuan untuk menciptakan perdamaian yang berkelanjutan dan sering kali melibatkan jaminan dari pihak ketiga atau organisasi internasional.

Singkatnya, gencatan senjata adalah langkah awal menuju perdamaian, sementara perjanjian damai adalah tujuan akhir yang mengikat secara hukum dan menyelesaikan konflik secara menyeluruh.

Studi Kasus Gencatan Senjata: Dari Sejarah Hingga Kontroversi Terbaru

Sepanjang sejarah, gencatan senjata telah menjadi instrumen penting dalam manajemen konflik. Beberapa contoh terkenal meliputi:

Perang Korea (1950-1953): Gencatan senjata disepakati pada tahun 1953, tetapi perjanjian damai formal tidak pernah ditandatangani.

Akibatnya, kedua Korea secara teknis masih dalam keadaan perang, meskipun permusuhan besar telah berhenti selama beberapa dekade.

Perang Vietnam (1973): Perjanjian Perdamaian Paris mencakup gencatan senjata yang bertujuan untuk mengakhiri keterlibatan AS dan mengarah pada penarikan pasukan.

Konflik Israel-Palestina: Berbagai gencatan senjata sementara telah disepakati antara Israel dan kelompok-kelompok Palestina untuk menghentikan kekerasan, meskipun konflik mendasar terus berlanjut.

Perang Yaman (2022): Gencatan senjata yang ditengahi PBB antara pemerintah Yaman dan pemberontak Houthi memberikan jeda langka dalam konflik berkepanjangan, membuka jalan bagi bantuan kemanusiaan dan negosiasi.

Klaim Gencatan Senjata AS-Iran yang Ditolak Teheran: Potret Kompleksitas Diplomasi Konflik

Dalam perkembangan terbaru yang menyoroti kerumitan gencatan senjata, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeklaim adanya kesepakatan gencatan senjata menyeluruh dan total antara Iran dan Israel.

Klaim ini muncul pada Selasa, 24 Juni 2025, setelah keduanya terlibat pertempuran udara sejak 13 Juni, di mana militer Teheran menyerang Pangkalan Udara Al Udeid Qatar yang dioperasikan AS.

Trump menyatakan di Truth Social bahwa "telah disetujui sepenuhnya oleh dan antara Israel dan Iran bahwa akan ada gencatan senjata yang menyeluruh dan total."

Menurut klaimnya, gencatan senjata akan dimulai secara bertahap, dengan Iran memulai gencatan senjata dan diikuti oleh Israel, mengakhiri "Perang 12 Hari" tersebut.

Trump memuji kedua negara atas "stamina, keberanian, dan kecerdasan" mereka untuk mengakhiri konflik.

Namun, klaim Trump ini dengan cepat dan tegas ditolak oleh Iran.

Mahdi Mohammadi, penasihat Ketua Parlemen Iran, langsung bereaksi di X dengan menyatakan, "AS dan Israel berbohong. Mereka ingin Iran menurunkan kewaspadaannya sehingga mereka dapat meningkatkan ketegangan."

Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, juga menepis klaim tersebut dalam sebuah postingan di X.

"Seperti yang telah berulang kali dijelaskan Iran: Israel melancarkan perang terhadap Iran, bukan sebaliknya," tulis Araghchi.

Ia menegaskan, "Sampai saat ini, tidak ada 'kesepakatan' tentang gencatan senjata atau penghentian operasi militer."

Araghchi menambahkan bahwa meskipun tidak ada kesepakatan, Iran tidak berniat melanjutkan respons mereka jika rezim Israel menghentikan agresinya paling lambat pukul 04.00 pagi waktu Teheran.

Insiden ini menyoroti bagaimana gencatan senjata, terutama yang sepihak atau diklaim tanpa persetujuan eksplisit kedua belah pihak, dapat menjadi alat dalam perang informasi dan diplomasi.

Ini juga menunjukkan bahwa gencatan senjata yang efektif memerlukan kesepahaman dan komitmen yang jelas dari semua pihak yang terlibat agar dapat dihormati dan membuahkan hasil.

Dalam kasus ini, ketidaksepakatan fundamental mengenai siapa yang memulai agresi juga menjadi penghalang utama bagi tercapainya gencatan senjata yang kredibel. **

Editor : Ibnu Yunianto
#selat hormuz #Iran ancam AS #iran israel #iran israel 2025 #oil price #iran #China #tehran #Iran vs Israel 2025 #perang 10 nopember #Israel #ceasefire #konflik israel #iran attack israel #Iran Balas Amerika #doha #Gencatan Senjata Dalam Konflik Palestina Israel #Konflik Israel dan Iran #gencatan senjata #AS vs Iran #crude oil price #Berita Iran Teheran terkini #qatar #hormuz #iran vs israel #crude oil #Selat Hormus