Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Thailand-Kamboja, Dua Negara yang Sedang Berkonflik Ini Sebagian Warganya Punya Keturunan Leluhur dengan Indonesia, Begini Ceritanya

Hari Puspita • Minggu, 27 Juli 2025 | 13:54 WIB
UNIKNYA DESA KOH PANYE : Suasana di desa terapung Koh Panye, di Thailand,  yang pendirinya adalah warga asal Indonesia, dari Jawa. (https://www.backpackadventures.org/koh-panyee-thailand/)
UNIKNYA DESA KOH PANYE : Suasana di desa terapung Koh Panye, di Thailand, yang pendirinya adalah warga asal Indonesia, dari Jawa. (https://www.backpackadventures.org/koh-panyee-thailand/)

 

Tahukah Anda, bahwa di Thailand dan Kamboja ada sejumlah wilayah yang warganya punya hubungan darah dengan Indonesia? Di dua negara tetangga sesama ASEAN ini sebagian warganya adalah keturunan atau berasal dari Indonesia. Di Thailand misalnya, ada beberapa wilayah yang punya komunitas keturunan Jawa, Bugis hingga Melayu Indonesia. Wilayah itu antara lain  adalah:

Kampung Jawa di Bangkok

Bila Anda pernah ke Bangkok, Thailand, di tengah hiruk pikuk kota Bangkok, terdapat sebuah komunitas keturunan Jawa yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Awal mulanya, pada masa pemerintahan Raja Mongkut (Rama IV) dan Raja Chulalongkorn (Rama V) sekitar abad ke-19, banyak orang Jawa yang datang ke Thailand sebagai pedagang dan pekerja.

Raja Chulalongkorn bahkan secara khusus mendatangkan orang-orang Jawa untuk membantu membangun taman, kanal, dan gedung-gedung pemerintahan di Grand Palace. Mereka diberikan lahan untuk menetap, yang kemudian dikenal sebagai "Kampung Jawa" atau "Kampung Hong Lamat Jawa."

UNIK DAN KHAS : Sisi lain desa terapung Koh Panye. (foto: https://www.backpackadventures.org/koh-panyee-thailand/)
UNIK DAN KHAS : Sisi lain desa terapung Koh Panye. (foto: https://www.backpackadventures.org/koh-panyee-thailand/)

Hingga saat ini, komunitas tersebut masih melestarikan beberapa tradisi, seperti sajian makanan khas Jawa saat acara kenduri.

Di sana juga ada Masjid Jawa yang didirikan oleh para imigran Jawa pertama dan menjadi pusat kegiatan komunitas. Namun, sebagian besar keturunan Jawa di sini sudah tidak lagi bisa berbahasa Indonesia dan hanya menggunakan bahasa Thailand.

 

Desa Terapung Koh Panyee, Provinsi Phang Nga

Koh Panyee adalah sebuah desa unik yang terletak di atas air di Teluk Phang Nga. Desa ini didirikan oleh tiga keluarga nelayan Muslim asal Jawa sekitar abad ke-18. Mereka mencari tempat tinggal baru dan akhirnya menemukan lokasi yang strategis di teluk terlindung di bawah tebing batu kapur.

Menurut legenda, mereka membangun rumah di atas air untuk menghindari undang-undang Thailand yang saat itu melarang orang asing memiliki tanah. Seiring waktu, desa ini berkembang dan kini dihuni oleh ribuan orang dari berbagai etnis, meskipun penduduk awalnya adalah keturunan Jawa.

Desa ini menjadi salah satu tujuan wisata terkenal di Thailand, dan penduduknya yang mayoritas Muslim hidup dari sektor perikanan serta pariwisata. Generasi tua di desa ini masih ada yang bisa berbicara bahasa Indonesia, namun generasi muda umumnya sudah menggunakan bahasa Thailand.

Jadi, keberadaan komunitas Jawa di Thailand tidak hanya menunjukkan hubungan sejarah yang erat antara kedua wilayah, tetapi juga menjadi bukti migrasi dan akulturasi budaya yang berlangsung selama berabad-abad.

Warga Kamboja Ada yang Berleluhur Bugis

Keberadaan orang Bugis di Kamboja tidak sepopuler di Malaysia atau Singapura, namun ada catatan sejarah yang menunjukkan hubungan antara para pelaut dan bangsawan Bugis dengan Kamboja. Hubungan ini terutama terjadi pada masa perantauan besar-besaran orang Bugis pada abad ke-17 dan ke-18.

Beberapa kelompok masyarakat Kamboja memiliki keterkaitan historis dengan Indonesia, meskipun tidak ada komunitas Indonesia yang menetap secara masif seperti di negara lain. Keterkaitan ini lebih banyak ditemukan pada masa lampau melalui migrasi dan hubungan antar kerajaan.

Hubungan Warga Champa dan Nusantara

Salah satu kelompok yang paling sering dikaitkan adalah suku Champa. Atau suku Champ. Suku Champa adalah masyarakat Muslim yang merupakan keturunan dari Kerajaan Champa di wilayah yang kini menjadi Vietnam bagian tengah dan selatan.

Migrasi ke Kamboja: Setelah Kerajaan Champa runtuh akibat ekspansi Vietnam pada abad ke-15, banyak orang Champa bermigrasi ke Kamboja. Mereka membentuk salah satu komunitas Muslim terbesar di negara tersebut hingga saat ini.

Hubungan dengan Indonesia: Suku Champa adalah bagian dari rumpun Austronesia, sama seperti sebagian besar suku di Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Madagaskar. Secara linguistik dan genetik, mereka memiliki kemiripan dengan suku-suku di Nusantara.

Islam juga masuk ke Champa dan Nusantara melalui jalur perdagangan yang sama, yaitu melalui para pedagang dari Arab dan India. Oleh karena itu, secara genealogi dan budaya, suku Cham memiliki ikatan kekerabatan yang kuat dengan orang-orang di Indonesia, terutama yang tinggal di wilayah pesisir.

Jejak Sejarah dari Era Kerajaan Syailendra di Jawa dan HubunganZaman  Modern dengan Kamboja

Selain suku Champa, hubungan historis antara Indonesia dan Kamboja juga tercatat pada masa kerajaan. Misalnya, Kekaisaran Khmer yang berkuasa di Kamboja memiliki hubungan erat dengan kerajaan-kerajaan di Jawa, khususnya pada masa Dinasti Syailendra.

Di sisi lain, berdasarkan penelitian historis, arkeologis, sosiologis,  ada dugaan kuat bahwa pendiri Kekaisaran Khmer, Jayawarman II, pernah tinggal di Jawa sebelum kembali ke Kamboja dan mendirikan kerajaannya.

ilustrasi Candi Angkorwatt di Kamboja (istimewa)
ilustrasi Candi Angkorwatt di Kamboja (istimewa)

Dalam konteks modern, Kamboja dan Indonesia memiliki hubungan diplomatik yang kuat. Ada komunitas kecil warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja, berbisnis, atau belajar di Kamboja. Terutama di ibu kota Phnom Penh.

Namun, komunitas ini adalah WNI yang datang pada era modern, bukan keturunan yang sudah menetap selama berabad-abad. Mereka sering kali berinteraksi melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan berbagai kegiatan komunitas.

Peran Bangsawan Bugis di Kamboja

Salah satu catatan yang paling terkenal adalah kisah Opu Daeng Rilakka dan kelima putranya yang dikenal sebagai "Lima Opu Daeng Bersaudara" (Daeng Parani, Daeng Marewah, Daeng Kemasi, Daeng Chelak, dan Daeng Menambun). Mereka merupakan bangsawan Bugis dari Kerajaan Luwu yang melakukan perantauan ke berbagai wilayah di Asia Tenggara setelah perselisihan internal di Sulawesi.

Dalam perjalanan mereka, rombongan Opu Daeng Rilakka ini singgah di berbagai tempat, termasuk Kamboja. Konon, mereka disambut dan dihormati oleh raja Kamboja pada masa itu.

Pernikahan dengan Putri Raja: Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa salah satu putra Opu Daeng Rilakka, yaitu Daeng Parani, menikah dengan putri raja Kamboja.

Kelahiran Daeng Kamboja: Dari pernikahan inilah lahir seorang anak yang kemudian diberi nama Daeng Kamboja. Nama ini menjadi bukti kuat adanya hubungan kekerabatan antara bangsawan Bugis dengan keluarga kerajaan Kamboja. Daeng Kamboja kelak menjadi tokoh penting di Kesultanan Lingga.

Jejak Perdagangan dan Pelayaran

Selain hubungan bangsawan, suku Bugis juga dikenal sebagai pelaut ulung dan pedagang yang mendominasi jalur maritim di Asia Tenggara. Meskipun tidak ada komunitas Bugis yang menetap secara masif di Kamboja seperti di Semenanjung Malaya, para pedagang Bugis kemungkinan besar sering singgah di pelabuhan-pelabuhan Kamboja untuk berdagang.

Kehadiran mereka di wilayah ini adalah bagian dari jaringan perdagangan yang lebih besar yang menghubungkan berbagai kerajaan di Nusantara, Semenanjung Malaya, Thailand, dan Indochina. Mereka membawa komoditas dari timur ke barat dan sebaliknya.

Meskipun saat ini tidak ditemukan komunitas Bugis yang besar dan menetap di Kamboja, jejak historis mereka cukup jelas.

Hubungan ini tidak hanya sebatas perdagangan, tetapi juga melibatkan pernikahan antar-bangsawan yang menunjukkan adanya interaksi politik dan kekerabatan pada masa lampau. Kisah Daeng Kamboja menjadi salah satu bukti konkret bahwa Kamboja pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan perantauan dan sejarah dinasti Bugis.[disarikan dari berbagai sumber dan mesin pencari gemini]

Editor : Hari Puspita
#thailand #kamboja #nusantara #leluhur