Radar Bali.id - Keberadaan para wali atau aulia (jamak dari wali) bukan hanya khas Indonesia atau Jawa, Sumatra,Kalimantan, dari abad ke-14, 15.17,18, Seperti Wali Sanga (Sembilan Wali) saja.
Dalam khasanah Islam secara luas, banyak dikenal tokoh-tokoh spiritual, penyebar syiar Islam, dan guru sufi yang memiliki kedekatan khusus dengan Allah SWT atau dikenal sebagai Waliyullah.
Hampir semua negara dengan penduduk Muslim besar memiliki tokoh-tokoh wali yang makam atau ajarannya masih diziarahi hingga sekarang, yang dikenal dengan segala karomahnya.
Apa itu karomah? Karomah atau kemuliaan adalah semacam kekuatan, kejadian, luar biasa di luar akal sehat dan hukum alam yang dianugerahkan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang saleh, bertakwa, dan taat dan dicintai Tuhannya.
Berikut adalah daftar beberapa tokoh besar di negara-negara yang Anda sebutkan:
Mesir (Pusat Sufisme Afrika Utara)
Mesir sangat kental dengan tradisi penghormatan kepada para wali, terutama dari keluarga Nabi (Ahlul Bayt).
- Sayyidah Zaynab: Cucu Nabi Muhammad SAW. Makamnya di Kairo dianggap sebagai salah satu tempat paling suci di Mesir.
- Imam Asy-Syafi'i: Meski dikenal sebagai pendiri Mazhab Syafi'i, beliau sangat dihormati sebagai wali besar.
- Sayyid Ahmad al-Badawi: Pendiri Tarekat Badawiyyah di Tanta. Beliau adalah wali yang paling populer di kalangan masyarakat pedesaan Mesir.
- Ibrahim ad-Dasuqi: Tokoh sufi besar lainnya yang merupakan pendiri Tarekat Dasuqiyyah.
Pakistan (Negeri Para Aulia)
Pakistan sering disebut sebagai tanah para Sufi karena Islam masuk ke sana melalui dakwah para wali, mirip dengan kisah Wali Sanga.
- Data Ganj Bakhsh (Ali Hujwiri): Wali paling utama di Lahore. Kitabnya, Kashf al-Mahjub, adalah referensi utama ilmu tasawuf.
- Lal Shahbaz Qalandar: Wali yang sangat populer di Sindh, dikenal dengan pesan cinta dan toleransinya yang universal.
- Baba Farid (Fariduddin Ganjshakar): Salah satu guru besar Tarekat Chishti yang puisinya sangat berpengaruh di wilayah Punjab.
- Bahauddin Zakariya: Wali besar di Multan yang membangun pusat pendidikan Islam yang sangat berpengaruh.
Uzbekistan (Pusat Intelektual Asia Tengah)
Uzbekistan adalah rumah bagi para "Raksasa" ilmu agama dan tasawuf yang pengaruhnya sampai ke Indonesia.
- Bahauddin Naqshband: Tokoh kunci dan pendiri Tarekat Naqsyabandiyah (tarekat yang sangat besar di Indonesia). Makamnya ada di Bukhara.
- Imam Al-Bukhari: Meskipun dikenal sebagai ahli hadis, beliau dihormati sebagai wali Allah yang agung.
- Ahmad Yasawi: Dikenal sebagai "Bapak" spiritual bangsa-bangsa Turki di Asia Tengah.
Maroko dan Aljazair (Maghribi)
Kawasan Afrika Utara (Maghrib) dikenal dengan sebutan "Tanah Seribu Wali".
- Abu Madyan (Sidi Boumediene): Dianggap sebagai "Gurunya para Wali" di wilayah Maghrib (Maroko/Aljazair).
- Abdeslam Ben Mchich: Wali besar dari Maroko yang menjadi guru dari Imam Asy-Syadzili.
- Imam Asy-Syadzili: Pendiri Tarekat Syadziliyah (sangat populer di kalangan pesantren di Jawa). Beliau berasal dari Maroko meski wafat di Mesir.
- Sidi Abderrahman el-Thaâlibi: Wali pelindung kota Algiers (Aljazair).
Iran (Pusat Mistikus Islam)
Iran, Irak, yang dulu merupakan wilayah Persia, dikenal sebagai wilayah pusat para sufi besar yang namanya abadi, dikenal luas ke penjuru dunia hingga kini. Antara lain:
- Syekh Abdul Qadir al-Jilani: Lahir di Gilan, Iran. Beliau adalah "Sultan para Wali" (Sulthanul Auliya) dan pendiri Tarekat Qadiriyah.
- Jalaluddin Rumi: Lahir di wilayah Balkh (area Iran/Afghanistan lama), penyair sufi paling terkenal di dunia.
- Abu Yazid al-Bustami: Salah satu perintis jalan tasawuf yang sangat berpengaruh.
Periode Tahun yang Berbeda
Jika di Jawa kita punya Sembilan Wali yang satu pulau, di negara-negara tersebut para wali biasanya muncul di abad yang berbeda-beda. Namun, fungsinya tetap sama: mereka adalah "jembatan" yang membawa ajaran Islam dengan pendekatan budaya, kasih sayang, dan spiritualitas.
Menariknya, salah satu anggota Wali Sanga, yaitu Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), diyakini berasal dari wilayah Samarkand (Uzbekistan) atau wilayah Persia (Iran), yang menunjukkan bahwa "nasab" kewalian di Indonesia memang tersambung ke tokoh-tokoh besar di negara-negara tersebut.[*]
Editor : Hari Puspita