Radar Bali.id- Picu perang Iran vs Amerika Serikat-Israel, yang telah dimulai Sabtu (28/2/2026), ditandai serangan rudal Israel ke Teheran telah direspon kesiagaan di seluruh penjuru dunia.
Di luar negara-negara jazirah Arab yang sedang berperang dan teramat sangat siap berperang, dinamika di Asia saat ini memang sangat tegang, terutama setelah pecahnya konflik besar antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran (puncaknya pada serangan Februari 2026).
Berikut adalah pengelompokan tingkat keseriusan negara-negara Asia dalam menghadapi risiko Perang Dunia ke-3.
Tiongkok Tingkat Kesiapannya Sangat Tinggi
Tiongkok alias China berada di level Sangat Tinggi, bahkan bisa dikatakan sebagai salah satu negara dengan persiapan paling komprehensif di dunia saat ini.
Berbeda dengan Indonesia yang fokusnya pada "asuransi keamanan" (bertahan), China melakukan persiapan yang bersifat sistemik dan strategis untuk kemungkinan konfrontasi langsung dengan blok Barat (AS dan sekutunya).Berikut adalah detail persiapannya per Maret 2026:
Modernisasi Nuklir Kilat: China sedang melakukan ekspansi nuklir tercepat dalam sejarahnya. Mereka menargetkan memiliki 1.000 hulu ledak pada 2030 untuk mencapai keseimbangan kekuatan dengan AS.
Dominasi Laut (Blue-Water Navy): Angkatan Laut China (PLAN) kini memiliki jumlah kapal perang terbanyak di dunia. Pada akhir 2025, mereka meresmikan kapal induk Fujian yang sangat canggih dan kapal selam nuklir tipe baru (Type 09V) yang sulit dideteksi.
Latihan Blokade Taiwan: Sejak akhir 2025 hingga awal 2026, China rutin menggelar latihan militer skala besar yang mensimulasikan blokade total terhadap Taiwan, melibatkan lebih dari 200 pesawat tempur dalam sekali latihan.
Sipil dan Infrastruktur untuk Ketahanan Total
Benteng Bawah Tanah: China memiliki jaringan bunker dan kota bawah tanah yang sangat luas (warisan Perang Dingin yang terus dimodernisasi). Di kota-kota besar, fasilitas publik seperti stasiun MRT didesain untuk berubah menjadi perlindungan serangan udara dalam hitungan jam.
Ketahanan Pangan dan Energi: Pasca perang Iran vs AS-Israel, China sangat khawatir akan jalur pasokan energi di Selat Hormuz dan Selat Malaka. Oleh karena itu, mereka mempercepat pembangunan pipa gas darat dari Rusia dan Asia Tengah agar tidak bisa "dicekik" oleh armada laut AS jika perang pecah.
Persiapan Digital dan Satelit: China telah memperkuat sistem navigasi beidou milik mereka sendiri agar militer mereka tidak bergantung pada GPS milik Amerika Serikat.
Persiapan Ekonomi
China sangat serius mengurangi ketergantungan pada mata uang Dollar AS. Belajar dari sanksi yang menimpa Rusia, China mempercepat penggunaan Yuan dalam perdagangan internasional (terutama dengan negara penghasil minyak) agar ekonomi mereka tidak lumpuh jika terkena sanksi ekonomi global.
Mengapa China masuk kategori Sangat Tinggi?
Karena persiapan mereka bukan lagi sekadar membeli senjata (seperti Indonesia), melainkan mengubah seluruh struktur negara (ekonomi, infrastruktur, dan masyarakat) untuk siap bertahan hidup dan bertempur dalam durasi yang lama jika PD III benar-benar terjadi.
Tingkat Kesiapan Tinggi
Negara-negara ini berada dalam "mode siaga" karena ancaman langsung dari kekuatan besar di sekitar mereka.
- Taiwan: Berada di garis depan karena risiko invasi China. Pasca perang di Timur Tengah, Taiwan khawatir perhatian AS teralih, sehingga mereka mempercepat produksi rudal domestik dan memperpanjang durasi wajib militer.
- Jepang: Secara historis pasif, namun kini sedang melakukan remiliterisasi terbesar sejak PD II. Jepang mengubah kebijakan pertahanannya untuk memiliki kemampuan "serangan balik" dan meningkatkan anggaran militer secara drastis untuk membentengi pulau-pulau selatannya.
- Korea Selatan: Selalu siaga tinggi karena Korea Utara, namun kini makin serius karena aliansi Rusia-Korea Utara yang menguat. Mereka sedang mempertimbangkan pengembangan senjata nuklir sendiri atau kapal selam tenaga nuklir.
Mengapa mereka sangat serius pasca konflik Iran vs AS-Israel? Karena mereka sadar akan risiko "Kekosongan Pertahanan".
Saat AS fokus membantu Israel dan menyerang Iran, sumber daya militer AS di Asia (seperti kapal induk dan sistem pertahanan rudal) terancam ditarik ke Timur Tengah. Ini dianggap sebagai jendela peluang bagi China atau Korea Utara untuk bergerak.
Tingkat Kesiapan Sedang
Negara-negara di level ini waspada, meningkatkan pertahanan, namun tetap berusaha menjaga netralitas secara diplomatik.
Indonesia: Berada di kategori sedang. Belakangan ini Indonesia sangat aktif membeli alutsista (Jet tempur Rafale, F-15EX, kapal selam Scorpene, hingga radar canggih).
Alasannya: Bukan karena ingin ikut perang, melainkan untuk memenuhi Minimum Essential Force (MEF) dan memperkuat efek deteren (penggetar) agar kedaulatan tidak diinjak-injak saat konflik besar pecah di Laut China Selatan.
Fokus: Modernisasi armada laut dan udara serta memperkuat industri pertahanan dalam negeri (PT PAL, PT Pindad). Presiden Prabowo secara eksplisit memperingatkan risiko PD ke-3 karena dampak radiasi nuklir dan krisis pangan global.
Vietnam, Filipina: Fokus pada penguatan maritim di Laut China Selatan, namun sangat bergantung pada aliansi atau bantuan luar negeri.
Tingkat Kesiapan Relatif Santai
- Thailand & Kamboja: Lebih fokus pada stabilitas ekonomi internal dan hubungan dagang. Meskipun ada ketegangan perbatasan kecil, mereka cenderung menghindari keterlibatan dalam blok militer manapun.
- Malaysia: Meski vokal dalam mengkritik serangan ke Iran, persiapan militer secara fisik tidak seagresif negara-negara di atas dan lebih mengandalkan jalur diplomasi internasional.
- Brunei: Mengandalkan perlindungan diplomatik dan lokasi geografis yang relatif kecil.[*]
Eropa Bersiap Perang Dunia ke-3, Ada yang Siaga Tingkat Tinggi, Sedang hingga yang Santai, Negara Mana Saja?
Radar Bali.id- Perang Iran melawan keroyokan Amerika Serikat bersama Israel membuat sejumlah negara Eropa bersiaga menghadapi Perang Dunia ke-3.
Beberapa negara, terutama yang berbatasan langsung dengan Rusia atau memiliki sejarah panjang netralitas, adalah yang paling proaktif:
- Skandinavia (Swedia, Norwegia, Finlandia): Mereka adalah juaranya. Finlandia punya bunker yang bisa menampung seluruh penduduk Helsinki, sementara Swedia baru saja mendistribusikan jutaan pamflet "Jika Perang Datang".
- Negara Baltik (Estonia, Latvia, Lithuania): Karena ukurannya yang kecil, mereka membangun "Garis Pertahanan Baltik" yang terdiri dari ribuan beton pertahanan dan gudang logistik di perbatasan.
- Polandia: Saat ini Polandia sedang melakukan modernisasi militer terbesar di Eropa, dengan anggaran pertahanan mencapai 4% dari PDB mereka.
Logistik: Makanan dan Listrik
Strategi yang digunakan disebut "Pertahanan Total" (Total Defense), di mana warga sipil dilibatkan langsung dalam ketahanan negara.
Persediaan Makanan
- Stockpiling: Pemerintah Swedia dan Finlandia menyarankan warga menyimpan makanan tahan lama (kaleng, pasta, protein bar) untuk minimal 72 jam hingga 1 minggu.
- Gudang Nasional: Negara-negara ini memiliki cadangan gandum, bibit tanaman, dan obat-obatan tingkat nasional yang disembunyikan di lokasi rahasia.
Listrik dan Energi
- Desentralisasi: Fokus utama adalah mengurangi ketergantungan pada satu gardu induk. Warga didorong memiliki kompor gas portabel dan power bank tenaga surya.
- Bunker Energi: Generator raksasa disiapkan untuk fasilitas publik seperti rumah sakit dan pusat komando bawah tanah.
Perlindungan Lansia, Anak-anak, dan Wanita
Eropa tidak lagi menggunakan istilah "wajib militer" hanya untuk laki-laki dalam konteks kesiapsiagaan sipil.
- Pendidikan Sejak Dini: Di negara Baltik, anak sekolah diajarkan pertolongan pertama dan cara mengenali disinformasi (perang siber).
- Bunker Modern: Bunker di Finlandia dirancang sangat nyaman, lengkap dengan lapangan olahraga dan area bermain anak, agar kesehatan mental terjaga selama masa isolasi.
- Evakuasi Terstruktur: Rencana evakuasi memprioritaskan kelompok rentan (lansia dan anak-anak) ke wilayah Barat Eropa yang lebih jauh dari garis depan.
Tingkat Kesiapan Negara dalam Menghadapi Konflik
Tingkat Kesiapan Sangat Tinggi
Negara-negara seperti Swedia, Finlandia, dan Polandia menunjukkan komitmen yang paling serius. Langkah nyata yang mereka ambil meliputi penerapan wajib militer, penyediaan bunker massal bagi penduduk, serta pelaksanaan latihan sipil secara rutin untuk memastikan masyarakat siap dalam kondisi darurat.
Tingkat Kesiapan Sedang
Jerman, Prancis, dan Inggris berada pada level menengah. Fokus utama mereka saat ini adalah meningkatkan anggaran militer secara signifikan. Meski begitu, aspek infrastruktur sipil di negara-negara ini masih dalam proses renovasi dan belum sepenuhnya siap seperti kelompok negara pertama.
Tingkat Kesiapan Relatif Santai
Negara-negara di bagian selatan Eropa seperti Spanyol, Portugal, dan Italia cenderung lebih tenang. Mereka lebih memprioritaskan stabilitas ekonomi dan merasa cukup aman karena posisi geografis mereka yang jauh dari titik konflik di wilayah Timur.
Bukan hanya sekadar ledakan bom, ketakutan utama mereka antara lain:
- Perang Hibrida: Serangan siber yang mematikan aliran listrik dan internet secara nasional secara tiba-tiba.
- Sabotase Infrastruktur: Seperti pemutusan kabel bawah laut atau pipa gas.
- Senjata Nuklir Taktis: Ketakutan akan eskalasi yang tidak terkendali yang melibatkan radiasi.[disarikan dari berbagai sumber*]