RADAR BALI - Tensi di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah militer Israel mengumumkan dimulainya gelombang serangan skala besar terhadap Teheran, Iran.
Langkah ofensif ini merupakan respons langsung terhadap rentetan serangan rudal terintegrasi yang diluncurkan oleh Garda Revolusi Iran bersama sekutunya, kelompok Hizbullah dari Lebanon.
Di tengah eskalasi militer yang kian memanas, publik sempat digemparkan oleh rumor yang menyebut bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah tewas.
Spekulasi ini awalnya ditiupkan oleh media Iran setelah pemimpin Israel tersebut tidak terlihat dalam berbagai agenda publik selama beberapa hari terakhir.
Namun, kabar tersebut segera dibantah keras oleh otoritas Israel yang menyebutnya sebagai informasi palsu atau hoaks.
Kantor Perdana Menteri Israel menegaskan bahwa Benjamin Netanyahu dalam kondisi aman dan tetap menjalankan tugasnya.
Bahkan, Netanyahu dilaporkan sempat mengunjungi lokasi terdampak serangan rudal di Beit Shemesh untuk memantau situasi secara langsung dan memberikan pernyataan di hadapan publik.
Bantahan ini sekaligus mematahkan klaim Iran yang menyebut bahwa kantor perdana menteri telah menjadi sasaran fatal dalam serangan mereka.
Konflik ini sendiri bermula dari operasi gabungan Iran yang melibatkan lebih dari 50 target strategis di wilayah Israel, termasuk pangkalan militer di Haifa, Tel Aviv, hingga Beersheba.
Garda Revolusi Iran mengeklaim telah menggunakan rudal balistik jenis Kheibar yang memiliki jangkauan hingga 1.450 kilometer dan sistem pemandu canggih untuk menembus pertahanan udara.
Selain menyasar Israel, serangan tersebut juga dilaporkan mengarah ke pangkalan Amerika Serikat di Arab Saudi dan Yordania, meski otoritas setempat menyatakan tidak ada kerusakan signifikan di wilayah mereka.
Sebagai balasan, Israel tidak hanya menggempur Teheran tetapi juga meningkatkan intensitas serangan ke markas Hizbullah di Dahiyeh, pinggiran selatan ibu kota Lebanon.
Militer Israel menyatakan bahwa operasi ini bertujuan untuk menghancurkan infrastruktur militer kelompok yang didukung Iran tersebut.
Dampak dari peperangan yang kian meluas ini sangat dirasakan oleh warga sipil di Tel Aviv yang kini digambarkan layaknya kota hantu.
Sebagian besar warga memilih untuk tetap berada di dalam bunker perlindungan menyusul instruksi ketat dari Komando Pertahanan Dalam Negeri.
Situasi darurat ini juga memaksa Menteri Pendidikan Yoav Kisch untuk membatalkan rencana pembukaan kembali sekolah.
Seluruh kegiatan pendidikan saat ini dibatasi hanya melalui sistem daring, sementara pertemuan publik diatur dengan pengawasan ketat demi memastikan keamanan warga jika serangan sewaktu-waktu kembali terjadi.***
Editor : Ibnu Yunianto