RADAR BALI – Ketegangan antara Teheran dan Washington memasuki babak baru setelah pemerintah Iran secara tegas membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai adanya negosiasi damai.
Teheran justru menuduh Washington sedang berupaya melakukan manipulasi pasar energi global melalui pernyataan-pernyataan yang menyesatkan.
Pihak Iran bereaksi cepat terhadap pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebutkan bahwa kedua negara telah mengadakan "percakapan produktif" selama dua hari terakhir.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baqaei menegaskan bahwa tidak ada dialog langsung maupun negosiasi yang terjadi selama 24 hari terakhir "perang yang dipaksakan" ini.
"Selama beberapa hari terakhir, pesan memang diterima melalui beberapa negara sahabat yang menunjukkan permintaan AS untuk negosiasi. Namun, kami membantah adanya negosiasi atau pembicaraan dengan Amerika Serikat," ujar Esmaeil Baqaei sebagaimana dikutip dari kantor berita IRNA dan AFP, Selasa (24/3/2026).
Senada dengan hal tersebut, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf juga membantah klaim sepihak dari Gedung Putih.
Media semi-resmi Mehr melaporkan bahwa Kementerian Luar Negeri Iran menilai manuver Trump hanyalah strategi untuk menekan harga komoditas dunia.
"Pernyataan Presiden AS berada dalam kerangka upaya untuk menurunkan harga energi dan mengulur waktu untuk melaksanakan rencana militernya," tulis pernyataan resmi Kemlu Iran.
Sesumbar Trump dan Reaksi Pasar
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim telah memerintahkan departemen perang untuk menunda serangan militer terhadap PLTU Iran.
Di hadapan jurnalis di bandara Florida, Senin (23/3), ia menyebut utusannya, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, telah berkomunikasi dengan pihak Iran.
"Kita berurusan dengan orang yang saya yakini paling dihormati dan seorang pemimpin," kata Presiden Donald Trump sembari memastikan sosok yang dimaksud bukan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei.
Dampak dari pernyataan Trump tersebut langsung terasa di sektor ekonomi.
Harga minyak dilaporkan turun dan pasar saham melonjak setelah muncul harapan akan berakhirnya permusuhan di Timur Tengah yang telah berlangsung selama tiga minggu terakhir.
Ancaman Infrastruktur dan Selat Hormuz
Meski AS mengklaim adanya kemajuan diplomatik, Iran tetap pada posisi siaga tinggi.
Esmaeil Baqaei menekankan bahwa posisi Iran mengenai pembukaan Selat Hormuz dan syarat mengakhiri perang tetap tidak berubah.
Iran juga memperingatkan akan adanya "konsekuensi serius" jika Amerika Serikat nekat menyerang infrastruktur vital.
Setiap tindakan yang menargetkan fasilitas energi Iran dipastikan akan mendapatkan respons yang tegas, segera, dan efektif dari angkatan bersenjata mereka.
Eskalasi di kawasan meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan pada 28 Februari lalu yang menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Teheran meluncurkan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan aset militer di berbagai titik di Timur Tengah, yang berdampak luas pada penerbangan dan pasar energi global.
Sebagai balasan atas serangan terhadap fasilitas nuklir Natanz pada Sabtu (21/03), gelombang rudal Iran menggempur dua kota yang berjarak 13 km dari Kota Dimona hingga menyebabkan 116 orang terluka di Arad dan 64 lainnya di Dimona.
Selain dampak di sekitar fasilitas nuklir Israel tersebut, layanan darurat Magen David Adom melaporkan satu korban jiwa dan tujuh luka-luka akibat bom tandan di Tel Aviv.
Angkatan Udara Israel mencatat Teheran telah menembakkan total 400 misil sejak serangan gabungan pada 28 Februari dan sekitar 92 persen berhasil dicegat sistem pertahanan udara.***
Editor : Ibnu Yunianto