RADAR BALI - Situasi di Timur Tengah berada dalam titik didih setelah serangkaian serangan militer besar melibatkan Israel, Iran, dan aset Amerika Serikat (AS).
Eskalasi terbaru ini dipicu oleh serangan udara perdana Israel ke wilayah Laut Kaspia yang kemudian dibalas dengan hujan rudal oleh Garda Revolusi Iran ke berbagai negara Teluk.
Militer Israel mencatat sejarah dengan melancarkan serangan udara di Laut Kaspia, menyasar Pelabuhan Bandar Anzali pada Rabu (18/3/2026).
Langkah ini merupakan pertama kalinya Israel menargetkan laut pedalaman terbesar di dunia tersebut, yang selama ini menjadi jalur vital bagi Iran dan Rusia.
Wall Street Journal melaporkan serangan itu menghantam puluhan target, termasuk pusat komando dan galangan kapal, infrastruktur pengiriman drone kamikaze Shahed dan amunisi, serta kapal perang serta fasilitas pemeliharaan militer.
Operasi tersebut bertujuan memutus jalur penyelundupan Rusia dan menunjukkan bahwa Iran tidak memiliki pertahanan di Kaspia. Namun, serangan tersebut juga diyakini mengganggu jalur logistik sipil, terutama pasokan gandum.
Balasan Teheran: Rudal Menghantam Pangkalan AS di Teluk
Merespons tindakan Israel, Garda Revolusi Iran mengumumkan telah meluncurkan rentetan rudal berpemandu presisi ke jantung wilayah Israel dan pangkalan militer AS di Kuwait, Yordania, hingga Bahrain pada Rabu (25/3/2026).
Dampak dari serangan balasan Iran dilaporkan sangat signifikan. Sebanyak 13 tentara AS tewas dan 290 lainnya luka-luka, dengan 10 personel dalam kondisi kritis.
Sedangkan di Kuwait, sebuah drone menghantam tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait yang memicu kebakaran hebat.
Data dari Al Jazeera menunjukkan eskalasi konflik antara poros AS-Israel melawan Iran telah menelan sekitar 2.600 korban jiwa hingga 24 Maret 2026.
Reaksi Internasional dan Tekanan Diplomatik
Kementerian Luar Negeri Rusia mengutuk keras serangan Israel di Bandar Anzali, menyebutnya sebagai gangguan terhadap pusat logistik sipil.
Meski situasi di Kaspia memanas, Israel dilaporkan tetap berhati-hati untuk tidak memicu konfrontasi langsung secara terbuka dengan Rusia.
Di tengah baku tembak rudal dengan Iran, Pemerintah Israel juga memperkuat front utara. Tel Aviv mengumumkan rencana pengiriman sekitar 450.000 tentara cadangan ke perbatasan Lebanon.
Langkah ini diambil menyusul meningkatnya intensitas serangan roket dari Hisbullah sejak awal Maret.
Penempatan pasukan yang meliputi unit infanteri dan artileri ini dipersiapkan untuk memperkuat pertahanan serta mengantisipasi kemungkinan operasi darat lanjutan di wilayah selatan Lebanon.***
Editor : Ibnu Yunianto