Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Rudal Iran Gempur Arab Saudi, Pesawat Pengintai E-3 AS Hancur, 15 Prajurit Terluka

Dhian Harnia Patrawati • 2026-03-30 12:31:17
Pesawat pengintai dan pengendali serangan udara milik AS E-3 Sentry yang hancur terkena serangan rudal Iran di Bandara Prince Sultan di dekat Riyadh, Arab Saudi.
Pesawat pengintai dan pengendali serangan udara milik AS E-3 Sentry yang hancur terkena serangan rudal Iran di Bandara Prince Sultan di dekat Riyadh, Arab Saudi.

 
RADAR BALI – Serangan rudal dan pesawat tak berawak (drone) yang diluncurkan Iran ke Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi dilaporkan meluluhlantakkan aset udara penting milik Amerika Serikat.

Dalam insiden tersebut, sebuah pesawat pengintai bernilai tinggi, E-3 Sentry AWACS (Airborne Warning and Control System), hancur berkeping-keping dan setidaknya 15 prajurit AS mengalami luka-luka.

Menurut laporan dari The Associated Press yang mengutip sumber-sumber terkait, lima dari 15 prajurit yang terluka berada dalam kondisi kritis.

Hingga saat ini, pihak militer AS maupun pemerintah Arab Saudi belum memberikan komentar resmi, meski foto-foto satelit dan laporan media internasional telah mulai beredar.

Kerugian Besar Alutsista Udara

Pesawat E-3 Sentry seharga kira-kira 300 juta dolar AS tersebut dilaporkan terkena hantaman langsung. Foto-foto yang belum terverifikasi menunjukkan bagian ekor pesawat terputus sepenuhnya, membuatnya tidak mungkin lagi untuk diperbaiki.

Pesawat ini memiliki peran krusial sebagai "mata di langit" yang mampu mendeteksi ancaman jarak jauh dan mengarahkan pesawat tempur lainnya.

Mantan perwira Angkatan Udara Kerajaan Australia Peter Layton menyatakan bahwa insiden ini merupakan peringatan serius bagi pertahanan udara.

"Ini adalah masalah besar. Hal ini menyoroti bahwa pesawat berukuran besar sangat rentan saat berada di darat dan membutuhkan pertahanan aktif. Melakukan pertahanan penuh setiap saat adalah hal yang sulit, dan terkadang bisa gagal," ujar Peter Layton seperti dikutip AP.

Selain kehancuran E-3 Sentry, serangan tersebut juga merusak beberapa pesawat tanker KC-135 yang berfungsi sebagai pengisi bahan bakar di udara.

Juru bicara markas militer pusat Iran Ebrahim Zolfaghari mengklaim bahwa satu pesawat pengisi bahan bakar hancur total, sementara tiga lainnya mengalami kerusakan parah.

Eskalasi Konflik di Kawasan Teluk

Serangan yang terjadi pada hari Jumat tersebut menandai perluasan konflik sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Teheran membalas dengan menargetkan aset-aset AS yang tersebar di negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Yordania, dan Kuwait.

Berikut adalah rincian aset yang dilaporkan rusak atau hancur akibat serangan Iran dalam sebulan terakhir:

Jenis Aset                       Status                          Lokasi Terkait
E-3 Sentry (AWACS)        Hancur (1 Unit)          Pangkalan Prince Sultan
KC-135 Stratotanker       Rusak/Hancur            Pangkalan Prince Sultan
MQ-9 Reaper Drone       Ditembak Jatuh         Wilayah Udara Kawasan
Sistem THAAD                Rusak                         Pangkalan di Teluk Sistem Radar Patriot       Hancur                       Berbagai Pangkalan AS

Armada yang Semakin Menipis

Kehilangan satu unit E-3 Sentry sangat dirasakan oleh Angkatan Udara AS karena jumlah armada ini terus menyusut.

Saat ini, hanya tersisa 16 unit E-3 Sentry yang beroperasi, dengan enam di antaranya ditempatkan di Arab Saudi sebelum serangan terjadi.

Meskipun Pentagon berencana mengganti pesawat era 1970-an ini dengan Boeing E-7 Wedgetail yang lebih modern, proses transisi tersebut memakan biaya yang sangat besar, yakni mencapai lebih dari 700 juta dolar AS per unit.

Hingga berita ini diturunkan, ketegangan di wilayah penghasil energi utama dunia tersebut masih terus meningkat.

Iran dilaporkan telah meluncurkan lebih dari 1.200 rudal balistik dan 3.300 drone Shahed selama kampanye militer ini berlangsung.

Hal tersebut membuktikan bahwa ruang udara di kawasan tersebut tetap sangat berbahaya bagi pasukan koalisi.***

Editor : Ibnu Yunianto
#e 3 sentry #AWACS #KC 135 Stratotanker #mq 9 reaper drone #pangkalan amerika serikat #Pangkalan Udara Prince Sultan #BBM naik #iran israel #Perang Iran Israel #iran #amerika serikat #rudal iran #saudi arabia #Arab Saudi #patriot #kuwait