RADAR BALI - Ketegangan antara Washington dan Teheran memasuki babak baru yang melibatkan perang urat saraf di ranah publik.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengirimkan surat terbuka yang ditujukan langsung kepada rakyat Amerika Serikat (AS) di tengah berkecamuknya konflik bersenjata.
Dalam surat tersebut, Pezeshkian mendesak publik AS untuk melihat melampaui "banjir distorsi" dan mempertanyakan siapa yang sebenarnya diuntungkan oleh konfrontasi AS-Israel terhadap Iran saat ini.
Gugatan Terhadap Kebijakan "America First"
Dalam surat yang dibagikan oleh lembaga penyiaran PressTV pada Rabu (2/4/2026), Pezeshkian mempertanyakan apakah kebijakan "America First" yang diusung presiden Amerika Serikat Donald Trump benar-benar menjadi prioritas.
Dia menyoroti dampak kemanusiaan serta rusaknya reputasi global AS akibat kehancuran infrastruktur sipil di Iran.
"Tepatnya kepentingan rakyat Amerika yang mana yang benar-benar dilayani oleh perang ini?," katanya.
"Apakah pembantaian anak-anak yang tidak berdosa, penghancuran fasilitas farmasi pengobatan kanker, atau kebanggaan atas pengeboman sebuah negara hingga 'kembali ke zaman batu' melayani tujuan lain selain merusak reputasi global Amerika Serikat?" tulis Pezeshkian dalam suratnya.
Dia juga menuding bahwa pemerintah AS saat ini telah dimanipulasi oleh kepentingan Israel.
Pezeshkian mempertanyakan apakah AS terjebak menjadi proksi bagi ambisi Israel yang ingin mengalihkan perhatian dunia dari krisis di Palestina dengan menggunakan sumber daya dan nyawa tentara Amerika.
Bantahan Terhadap Klaim Gencatan Senjata
Surat terbuka ini muncul hanya beberapa jam setelah presiden Amerika Serikat mengeluarkan pernyataan provokatif melalui platform Truth Social.
Donald Trump mengklaim bahwa presiden rezim baru Iran telah meminta gencatan senjata karena dianggap "lebih cerdas" dibanding pendahulunya.
Namun, Trump memberikan syarat berat bagi Teheran. "Kami akan mempertimbangkannya ketika Selat Hormuz terbuka, bebas, dan bersih. Sampai saat itu, kami akan membombardir Iran hingga hancur lebur atau kembali ke Zaman Batu!!!" tegas Trump dalam unggahannya.
Klaim mengenai permintaan gencatan senjata tersebut dibantah keras oleh para pejabat Iran. Pezeshkian justru menegaskan bahwa serangan terhadap infrastruktur vital energi dan industri Iran bukanlah bentuk kekuatan, melainkan tanda "kebingungan strategis" dan kegagalan dalam mencapai solusi berkelanjutan.
Perang Narasi yang Mematikan
Kondisi saat ini digambarkan oleh banyak pihak sebagai "perang narasi". Di satu sisi, Washington mencoba memaksakan narasi kemenangan dan tekanan maksimum.
Di sisi lain, Teheran berusaha membangun citra sebagai pihak yang mempertahankan diri dari agresi luar sambil menekankan bahwa mereka tidak memiliki permusuhan terhadap rakyat Amerika secara personal.
Pezeshkian mengingatkan bahwa Iran telah dua kali diserang justru saat perundingnya sedang berpartisipasi dalam pembicaraan nuklir multilateral, termasuk serangan besar pada Juni 2025 dan Februari 2026.
Menurutnya, agresi ini hanya akan menanam benih dendam yang bertahan selama bertahun-tahun dan meningkatkan biaya ekonomi yang harus ditanggung oleh semua pihak, termasuk pembayar pajak di Amerika Serikat.***
Editor : Ibnu YuniantoSumber : Radar Bali