Trump Ancam Lumpuhkan Iran jika Selat Hormuz Tak Dibuka Rabu Pagi

Dhian Harnia Patrawati • Dipublikasikan Selasa, 7 April 2026 | 12:06 WIB
Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia yang kini jadi pusat ketegangan global Iran dan Amerika Serikat.
Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia yang kini jadi pusat ketegangan global Iran dan Amerika Serikat.

 

RADAR BALI – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ancaman keras untuk melumpuhkan Iran "dalam satu malam" untuk menekan Teheran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. 

Trump menetapkan tenggat waktu negosiasi hingga Selasa pukul 20.00 waktu Washington DC, atau Rabu pukul 07.00 WIB.

Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Trump menegaskan bahwa AS siap menyerang infrastruktur energi dan transportasi Iran jika jalur energi global tersebut tetap diblokade.

"Satu negara penuh bisa dilenyapkan dalam semalam, dan malam itu bisa jadi besok malam," ujar Trump pada Senin waktu setempat seperti dikutip BBC.

Ancaman Kembali ke "Zaman Batu"

Presiden Trump memperingatkan bahwa begitu tenggat waktu terlewati, Iran akan dikirim kembali ke "Zaman Batu."

Presiden ke-45 Amerika Serikat itu merinci bahwa serangan tersebut akan menargetkan fasilitas vital penduduk seperti penghancuran jembatan-jembatan utama di seluruh negeri dan melumpuhkan seluruh pembangkit listrik.

Meski demikian, Trump mengaku tetap optimis bahwa para pemimpin Iran sedang bernegosiasi dengan niat baik, terutama setelah serangan bertubi-tubi dari AS dan Israel yang menewaskan sejumlah petinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), termasuk Kepala Intelijen Majid Khademi.

Krisis Selat Hormuz dan Dampak Global

Blokade Iran terhadap Selat Hormuz sejak 28 Februari telah memicu kekacauan ekonomi dunia.

Jalur sempit dengan lebar hanya sekitar 36 km tersebut signifikan karena sekitar 20 % pasokan minyak dan LNG dunia melewati selat ini dengan nilai datang sekitar USD 600 miliar atau Rp 10,25 triliun per tahun.

Selain itu, sepertiga perdagangan pupuk dunia serta jalur utama impor makanan dan obat-obatan bagi Timur Tengah.

Dampaknya sudah terasa secara global. Slovenia menjadi negara Uni Eropa pertama yang menerapkan rasionalisasi bahan bakar, sementara beberapa negara di Asia dan Afrika mulai membatasi konsumsi listrik dan mengubah jam kerja demi menghemat energi.

Konteks Militer dan Hukum Internasional

Ancaman "bumi hangus" tersebut muncul setelah militer AS melakukan lebih dari 13.000 serangan ke Iran sejak konflik dimulai. Terakhir, pasukan AS berhasil menyelamatkan dua awak jet tempur F-15 yang jatuh di Iran selatan. 

Bersama Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, Trump menegaskan AS memiliki "rencana terbaik" yang tidak akan dibocorkan ke media.

Namun, langkah ini menuai kritik tajam. Pakar hukum internasional memperingatkan bahwa serangan sengaja terhadap infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik demi menekan pemerintah di meja perundingan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.

Di sisi lain, negosiasi diplomatik yang dimediasi oleh Pakistan, Turki, dan Mesir terhambat oleh pemadaman komunikasi di Iran. Pejabat regional menyatakan bahwa sulit untuk mendapatkan respons cepat dari pihak Teheran dalam situasi perang yang sedang berkecamuk.***

Editor : Ibnu Yunianto
Sumber : Radar Bali
selat hormuz donald trump perang iran perang timur tengah krisis energi