Eropa Dilanda Badai Dave, Ribuan Penerbangan di Belanda dan Italia Delay dan Batal

Dhian Harnia Patrawati • Dipublikasikan Rabu, 8 April 2026 | 13:58 WIB
Ilustrasi - Lebih dari 100 ribu penumpang terlantar akibat pembatalan ratusan penerbangan dan keterlambatan lebih dari 1.400 penerbangan di 9 negara Eropa.
Ilustrasi - Lebih dari 100 ribu penumpang terlantar akibat pembatalan ratusan penerbangan dan keterlambatan lebih dari 1.400 penerbangan di 9 negara Eropa.

 

RADAR BALI - Dunia penerbangan di Eropa tengah menghadapi masa sulit pada awal April 2026.  Kombinasi faktor alam dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu kekacauan jadwal maskapai besar di 9 negara Eropa. 

Sebanyak 238 penerbangan dilaporkan mengalami pembatalan dan 1.469 penerbangan mengalami keterlambatan. Belanda menjadi wilayah yang terdampak paling parah. Lebih dari 100 ribu penumpang terkena imbas dari situasi tersebut. 

Berdasarkan data terbaru, gangguan penerbangan berpusat di Bandara Schiphol, Amsterdam, yang merupakan salah satu titik transit tersibuk di dunia. 

Situasi tersebut dipicu oleh empat faktor krusial yang terjadi secara bersamaan.

1. Amukan Badai Dave di Eropa Barat Laut

Sepanjang libur Paskah tahun ini, Badai Dave menerjang wilayah Eropa Barat Laut dengan kekuatan besar. Belanda berada tepat di jalur lintasan badai ini.

Kecepatan angin yang mencapai lebih dari 100 km/jam memaksa otoritas bandara membatasi aktivitas lepas landas dan pendaratan.

Di Bandara Schiphol, ratusan jadwal mengalami penundaan (delay) hingga pembatalan (canceled) total demi keselamatan penumpang karena kondisi landasan yang dianggap tidak aman.

2. Eskalasi Konflik di Timur Tengah

Ketegangan antara Iran dan Israel yang kian memanas berdampak langsung pada rute udara internasional.

Maskapai nasional Belanda KLM mengambil langkah tegas dengan menangguhkan layanan ke wilayah konflik. Menurut pernyataan resmi manajemen, penangguhan ini akan berlangsung setidaknya hingga pertengahan Mei 2026.

Penutupan ruang udara di wilayah tersebut memaksa rute dari dan ke Tel Aviv, Dubai, Dammam, hingga Riyadh dibatalkan atau dialihkan secara signifikan guna menghindari zona bahaya.

3. Efek Domino Cuaca Buruk dari Amerika Serikat

Selain faktor internal di Eropa, gangguan juga datang dari arah barat. Badai petir hebat yang menghantam Pantai Timur Amerika Serikat, termasuk New York, pada periode 4–7 April 2026, memicu hambatan pada rute trans-atlantik.

Hal ini menyebabkan jadwal penerbangan internasional yang seharusnya mendarat di Belanda menjadi berantakan, memperparah penumpukan penumpang di terminal.

4. Krisis Operasional yang Belum Tuntas

Meskipun saat ini sudah memasuki musim semi, dampak dari pembatalan massal akibat badai salju ekstrem pada Januari 2026 ternyata masih menyisakan masalah.

Kurangnya tenaga teknisi dan pengemudi di bandara menjadi kendala serius ketika terjadi lonjakan penumpang secara mendadak seperti saat ini.

Selain itu, terdapat krisis avtur di Italia dan penutupan ruang udara yang memperburuk krisis penerbangan di Eropa. 

Kondisi ini diperkirakan masih akan fluktuatif mengingat dinamika cuaca dan situasi keamanan global yang belum stabil.***

Editor : Ibnu Yunianto
Sumber : Radar Bali
badai dave Bandara Schiphol Penerbangan Eropa Konflik Timur Tengah belanda