Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Awalnya Ditentang Keluarga, Petani Jembrana Sukses Budi Daya Apel India

Yoyo Raharyo • Senin, 30 Mei 2022 | 20:15 WIB
Kadek Marsona, 43, membudidayakan putsa atau apel India di Banjar Rening, Desa Baluk, Kecamatan Negara, Jembrana, Bali. (m. basir/radar bali)
Kadek Marsona, 43, membudidayakan putsa atau apel India di Banjar Rening, Desa Baluk, Kecamatan Negara, Jembrana, Bali. (m. basir/radar bali)
NEGARA - Berawal dari hobi tanaman dan usaha bibit tanaman buah, Kadek Marsona,43, bertani dan membudidayakan putsa atau lebih dikenal dengan apel India di lahan pribadinya.

Sawah seluas 27 are di Banjar Rening, Desa  Baluk, Kecamatan Negara, Jembrana, Bali, diganti dengan tanaman buah apel India. Usahanya sejak empat tahun lalu itu, tanaman apel India produktif dan dijadikan salah satu agrowisata di Jembrana.

Jenis apel yang satu ini masih terdengar sedikit asing dibandingkan dengan jenis apel lainnya. Bentuk buahnya sekilas seperti buah Bidara, tetapi apel India dagingnya lebih banyak dan bijinya lebih kecil. Rasanya juga berbeda dengan jenis apel lainya. Rasanya juga berbeda dengan apel Malang atau apel lain pada umumnya.

Apel India merupakan tanaman tropis yang tidak kenal musim. Jika dirawat dengan baik, maka buahnya tidak akan putus sepanjang tahun dan buahnya bisa lebih besar lagi.

"Kalau tanam mangga dan tanaman musiman lain, sebentar saja berbuahnya. Tunggu musim lagi baru panen," ungkapnya.

Menurut Kadek Marsona, awal mengganti sawah produktif menjadi lahan budi daya apel India, mendapat penentangan dari keluarganya. Bahkan ayahnya secara tegas melarang sawahnya ditanami tanaman lain, karena dari luas lahan itu, bisa menghasilkan setahun paling tidak Rp6 juta jika dua kali panen padi. (bersambung halaman berikutnya)



Setelah Kadek Marsona meyakinkan ayahnya, akhirnya disetujui. Bersamaan dengan itu, kontrak lahan pinggir jalan untuk menanamkan segala macam bibit sudah habis dan harus pindah ke rumahnya di Banjar Rening, Desa Baluk.

"Awalnya empat tahun lalu menanam, setahun kemudian mulai berbuah," ujarnya.

Tanaman apel India yang ditanam cepat berbuah karena menggunakan cara sambung dengan tanaman bidara. Batang bawah menggunakan tanaman bidara dan disambung dengan tanaman apel India. Tahun pertama panen, apel India sebanyak 200 pohon yang ditanam masih belum banyak menghasilkan buah.

Namun tahun-tahun berikutnya buahnya mulai lebat. Setiap hari, sekitar 10 kilogram apel India dipanen. Karena banyak dipesan oleh warga lokal Jembrana, harus menunggu keesokan harinya jika hari pemesanan habis.

"Saya jual secara online seputaran Negara saja. Kalau ada yang beli langsung dipanen dari pohonnya," ungkapnya.

Meski apel India masih belum banyak dikenal dibandingkan dengan apel Malang, Jawa Timur, penjualan secara daring di sosial media, apel India banyak pesanan yang datang dari warga lokal Jembrana.

Kadek mengaku nekat menanam apel India dan menyajikan kebunnya sebagai agrowisata sejak setahun terakhir, karena desa Baluk sebagai salah satu desa wisata di Jembrana. Sehingga, selain menawarkan potensi wisata pantai, dengan adanya agrowisata apel India ini bisa dijadikan alternatif wisata di Desa Baluk. (bersambung halaman berikutnya)



Karena semakin banyak yang tahu, akhirnya Kadek berinisiatif membuat agrowisata Apel India sejak setahun lalu. Pengunjung bisa datang dan memetik langsung buah apel India di pohonnya. Setiap pengunjung dewasa cukup bayar Rp 20 ribu, bisa makan apel India sepuasnya. Sebagai pelengkap, pengunjung diberi sambel colek untuk dimakan dengan apel India.

"Pengunjung boleh makan di tempat, tidak boleh dibawa pulang," terangnya.

Karena semakin banyak kunjungan ke tempat budidayanya, penjualan secara daring pada pelanggannya juga dibatasi. Ketika sudah banyak yang datang langsung, maka tidak memanen buahnya.

"Kasihan yang datang kalau dipanen, biar khusus yang datang saja dulu," terangnya.

Kadek mengakui, sebagai agrowisata masih dalam proses berbenah. Saat ini masih banyak kekurangan fasilitas pendukung, mulai parkir dan di dalam kebun budi daya India. Waktu membuka agrowisata juga akan diatur agar apel India di pohonnya juga lebih optimal dan pengunjung tidak kecewa.

"Sambil jalan saja, karena modal juga terbatas. Sekarang masih prioritas perawatan saja," tandasnya. (bas) Editor : Yoyo Raharyo
#apel India #banjar rening #putsa #jembrana #desa baluk #bali #budi daya apel india #kadek marsona