Kasus gigitan anjing positif rabies terkahir terjadi di wilayah Kecamatan Mendoyo. Sampel anjing yang diteliti di Balai Laboratorium Keswan dan Kesmavet Provinsi Bali, terkonfirmasi positif rabies.
Sehingga, komulatif positif rabies dari Januari hingga pertengahan bulan Juni ini sebanyak 122 kasus. "Kemungkinan akan tambah lagi, karena masih ada sampel belum keluar dari laboratorium," ujar sub koordinator kesehatan hewan dari Bidang Keswan Dan Kesmavet I Gusti Ngurah Bagus Rai Mulyawan, Minggu (12/6).
Terkait kasus gigitan anjing rabies di Jembrana, pihaknya sudah melakukan upaya dengan vaksiansi rabies di lokasi sekitar yang terjadi gigitan. Pihaknya juga melakukan eliminasi selektif terhadap anjing liar yang kontak dengan anjing positif.
Selain itu kontrol populasi anjing lewat sterilisasi terhadap HPR ini, dilakukan dengan dua cara. Yakni, melalui kastrasi untuk yang jantan, ovariohysterectomy untuk yang betina. Cara ini diharapkan bisa menekan populasi hewan penular rabies terutama HPR yang dilepasliarkan.
"Dari data, sampai saat ini sudah ada empat orang yang suspek rabies. Kami tidak bisa memastikan positif karena harus dipastikan juga anjingnya positif, tapi kenyataanya dari empat kasus meninggal suspek itu anjingnya hilang sebelum dipastikan melalui laboratorium," ujarnya.
Sala satu pasien suspek yang meninggal yang gejalanya mendekati positif rabies adalah balita 2 tahun asal Banjar Pabuahan, Desa Banyubiru. Karena sebelum meninggal, anjing sempat menggigit tiga orang, termasuk kedua orang tuanya. Maka, tiga orang langsung disuntik vaksin anti rabies (VAR).
Mengantisipasi kasus gigitan yang bisa menyebabkan fatalitas, pihaknya sudah mengupayakan pengadaan VAR. Melalui anggaran badan layanan usaha daerah (BLUD) Puskesmas, Rumah sakit umum daerah (RSUD) Negara dan bantuan Provinsi Bali.
Karena sudah ada banyak tambahan stok VAR, pihaknya sudah mengimbau agar petugas medis di puskesmas maupun rumah sakit untuk menjalankan prosedur tetap penangan korban rabies. (bas)
Editor : Donny Tabelak