Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Tradisi Nampah Kebo Jelang Galungan di Desa Adat Asahduren Pekutatan, Begini Keunikannya

M.Ridwan • Selasa, 3 Januari 2023 | 02:00 WIB
LESTARIKAN TRADISI: Tradisi nampah kebo Desa Adat Asahduren, Kecamatan Pekutatan, jelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, Senin (2/1)
LESTARIKAN TRADISI: Tradisi nampah kebo Desa Adat Asahduren, Kecamatan Pekutatan, jelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, Senin (2/1)
NEGARA, radarbali.id - Setiap menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan, warga Desa Adat Asahduren, Kecamatan Pekutatan, melakukan tradisi memotong kerbau atau atau nampah kebo, Senin (2/1). Tradisi ini berbeda dengan warga desa adat lain di Jembrana yang nampah babi untuk hari raya enam bulan bulan sekali.

Tradisi nampah kebo warga Desa Adat Asahduren ini, merupakan tradisi turun temurun yang masih dilestarikan sampai saat ini. Daging yang dipotong lalu dibagikan kepada warga desa adat untuk digunakan sebagai sarana upacara dan untuk dikonsumsi. "Tradisi ini sudah turun temurun,"  ujar Bendesa Adat Asahduren I Kade Suentra, Senin (2/1).

Suentra menjelaskan, tradisi nampah kebo yang dilestarikan turun temurun ini, bermula dari penuturan penyungsungan desa Pura Penataran Luhur hingga Pura Kawitan, amanahnya tidak boleh memotong babi untuk sarana upacara.saat hari Raya Galungan dan Kuningan. Karena ada larangan itu, para leluhur berembug untuk menentukan alternatif selain babi untuk sarana upacara Galungan, sehingga dipilih menggunakan kerbau.

Tradisi memotong kerbau pada saat penampahan Hari Raya Galungan dan Hari Raya Kuningan itu, tetap dipertahankan sampai saat ini.  Karena harga kerbau yang mahal, berkisar Rp 30 -40 juta per ekor, kerbau yang dipotong untuk hari raya melalui arisan atau patungan dari beberapa orang. "Setiap selesai Hari Raya Galungan dan Kuningan, urunan lagi untuk beli kerbau yang akan dipotong Galungan berikutnya," jelasnya.

Setiap ekor kerbau yang dipotong, lanjutnya, dibagi menjadi 35 bagian untuk dibagikan kepada anggota kelompok yang mengikuti arisan atau patungan. "Daging kerbau dibagi rata kepada semua anggota kelompok yang patungan," ujarnya.

Daging kerbau yang dibagikan kepada warga Desa Adat Asahduren, diolah sesuai dengan keinginan dan selera warga. Umumnya, dimasak menjadi olahan sate, tum, digoreng dan olahan lainnya. Semua olahan digunakan untuk sesajen ke pura pada saat persebahyangan Hari Raya Galungan. Sisa dari daging diolah dengan olahan lain seperti rawon untuk dikonsumsi.

Bendesa menambahkan, jumlah kerbau pada hari Raya Galungan dan Kuningan saat ini, hanya enam ekor kerbau. Jumlah ini berkurang separuh dari sebelum pandemi Covid-19 hingga 10 ekor kerbau. Berkurangnya jumlah kerbau ini, karena perekonomian masyarakat yang turun tidak mampu membeli kerbau lebih banyak lagi. "Sejak pandemi Covid-19 jumlah kerbau turun," ungkapnya.

Namun demikian, dengan kondisi ekonomi saat ini, warga desa adat masih mempertahankan tradisi turun temurun nampah kebo setiap hari Raya Galungan dan Kuningan. "Sampai sekarang kita masih lestarikan di Desa Adat Asah Duren," terangnya.

Warga desa adat yang tidak ikut mepatung kebau, menggunakan ayam untuk sarana upacara. Namun umumnya, sembilan puluh persen warga mengikuti mepatung kerbau, karena setiap bagian perorang nilainya sekitar Rp 1,2 juta, maka satu bagian dibagi lagi untuk beberapa orang sehingga biaya yang dikeluarkan ringan. "Jadi satu bagian itu bisa dikeroyok empat orang lebih. Jadi hampir setiap warga mendapat daging kerbau untuk sesajen sarana upacara ke pura," tandasnya. (bas/rid) Editor : M.Ridwan
#Desa adat Asahduren Pekutatan #memotong kerbau jelang Galungan #tradisi nampah kebo #nampah kebo #tradisi turun temurun