Kepala bidang pencegahan dan pengendalian penyakit dinas kesehatan Jembrana I Gede Ambara Putra mengatakan, TBC secara nasional masih banyak beredar di masyarakat. Tidak terkecuali di Jembrana, sehingga sekarang ini perlu dilakukan pendataan mencari terduga TBC. "Semakin banyak yang terduga TBC, maka akan semakin baik, sehingga pencegahan dan pengendalian bisa terukur," jelasnya.
Penyakit TBC ini sebenarnya banyak menyebar di masyarakat, hanya saja karena kurang melakukan screening. Sehingga, dalam screening TBC ini ditarget oleh pemerintah pusat dalam hal ini kementerian kesehatan untuk mencari terduga TBC dalam setahun.
Dijelaskan, target estimasi terduga TBC di Jembrana tahun 2023 ini sebanyak 2.416 orang, hingga akhir bulan Februari ini sudah terdata sebanyak 554 orang terduga TBC atau 22,93 persen. Sedangkan yang positif TBC sudah terdata sebanyak 43 orang. "Baru dua bulan ini sudah mencapai 22 persen lebih dari target, kalau sampai akhir tahun bisa lebih dari seratus persen," jelasnya.
Target estimasi ini lebih banyak dari tahun 2022 lalu. Dimana target standar pelayanan minimal (SPM) yang ditentukan oleh Kementerian Kesehatan, estimasi terduga sebanyak 2.389 orang target positif 443 orang. Hasilnya terdata sebanyak 2.478 orang terduga TBC. Sedangkan hasil pemeriksaan terduga TBC sebanyak 239 orang.
Karena melampaui target SPM, Kabupaten Jembrana mendapat apresiasi tingkat provinsi dan nasional. Karena terbaik dalam screening terduga TBC. "Kalau target pusat sebanyak banyaknya bisa screening TBC, maka akan lebih baik lagi. Sehingga kami screening menyeluruh TBC di Jembrana," tegasnya.
Menurutnya, orang yang disebut terduga TBC ini ada teorinya, secara umum mereka yang mengalami batuk berdahak lebih dua Minggu. Disertai juga dengan gejala meriang pada malam hari, keluar keringat dingin dan tubuh semakin lemas.
Penyakit TBC ini, lanjutnya, penyebab utamanya bakteri mycobacterium tuberculosis. Faktornya orang bisa mudah terpapar karena daya tahan tubuh yang rendah, sehingga orang yang imun tubuhnya rendah pasti lebih mudah terkena TBC. Misalnya orang dengan HIV, lebih mudah kena TBC sehingga kebanyakan orang HIV yang kena TBC dengan paru-paru yang rusak hingga meninggal.
Dari segi lingkungan juga menjadi faktor TBC, salah satunya fentilasi rumah kurang memadai, kebersihan kurang baik. Serta gizi masyarakat juga berpengaruh terhadap orang mudah terkena TBC.
Dalam Penanganan TBC di Jembrana, perlu partisipasi dari masyarakat. Salah satunya tidak abai dengan TBC, sehingga dengan mencari terduga TBC sebanyak -banyaknya, salah satu upaya pencegahan TBC. "Semakin banyak orang yang kita obati, maka penularan semakin sedikit," ujarnya.
Kecenderungan masyarkat, dengan gejala TBC yang diderita dianggap sepele dan bukan TBC. Ketika gejala semakin parah, baru melaporkan dan memeriksakan diri. Selama belum berobat itu, sudah berapa orang yang tertular. "Karena penularan TBC ini gampang. Dengan batuk saja, TBC bisa menular," terangnya. (bas/rid)
Editor : M.Ridwan