CACING itu ada juga di organ lain ikan paus nahas tersebut. Yakni di saluran pencernaan. "Itu yang akan kami cek ke laboratorium, apakah parasit berbahaya atau tidak bagi pencernaan paus," ungkap BPSPL Denpasar, Permana Yudiarso
Mengenai kelamin paus sperma alias Physeter macrocephalus ini sudah dipastikan betina. Bukan paus jantan seperti informasi yang beredar sebelumnya.
Pihaknya juga mengambil sampel gigi, jaringan kulit dan lambung pencernaan. Sampel yang diambil ini merupakan bagian penting.
Sampel akan dianalisis di laboratorium fakultas kedokteran hewan unversitas Airlangga Surabaya. "Butuh waktu sekitar 3 atau empat minggu, akan kami sampaikan kabar hasil analisis penyebab kematiannya apa,"jelasnya.
Sifat paus sperma berenangnya sendiri, tidak berkelompok. Beda degan paus orka dan lumba -lumba. Paus sperma betina ini kalau lihat umur saat inu masih beranjak dewasa. "Umur belum tahu, tetapi analisanya remaja akhir mau beranjak dewasa," ungkapnya.
Tidak ada indikasi perburuan dari temuan paus yang mati ini. Dari luka yang ada, tidak ada tanda luka rombak dann jaring, jadi tidak ada perburuan paus di selat Bali. Termasuk yang sebelumnya tidak ada luka terbuka. "Kemungkinan sakit. Pencernaan kami analisa, makanan kami cek," ujarnya.
Dengan kasus temuan paus terdampar di laut Bali akhir -akhir ini, secara umum ada sesuatu terhadap laut. Jadi kondisi kesehatan dipengaruhi makanan dan tempat hidupnnya.
Paus ini hidup di kedalaman lebih 1.000 meter sampai 3.000 meter. Jarang ke permukaan kecuali bernafas, menyelam pun lama. "Ketika dia sakit, berarti ada sesuatu terhadap perairan kita," jelasnya.
Karena itu perairan harus dijaga. Perairan tercemar dan kotor, mencerminkan mengelola laut. Indikatornya, salah satunya bisa dilihat pada paus yang terdampar. Tetapi kami juga tidak tutup mata, bahwa kemungkinan paus ini berenang kemana mana.
Tidak hanya perairan kita. Bisa makan sesuatu di negara lain, ketika di perairan Indonesia sakit lalu mati dan terdampar. "Jadi kondisi laut dunia, tidak hanya Indonesia yang perlu perhatian lebih untuk kita tangani bersama," terangnya. [m.basir/radar bali]
Editor : Hari Puspita