Menurut Adi Sucipto, ketua paguyuban pedagang pasar senggol Jembrana, mengenai rencana relokasi pedagang senggol memang sudah setuju untuk direlokasi. Sebelum pedagang pindah semua, akan rapatkan dulu dengan pedagang. "Karena sudah tidak ada jalan keluar lagi, otomatis mau tidak mau disetujui," ujarnya, Selasa (23/5/2023).
Namun ketika pedagang pindah, ke gedung kesenian Ir. Soekarno, kendalanya pada pemindahan barang dan peralatan untuk berjualan. Saat ini warga sebagian besar menggunakan gerobak rombong untuk membawa peralatan masak dan masakan di rumah sudah 80 persen siap jual. "Kalau dorong gerobak dan bawa barang ke tower, berat sekali karena jauh," ujarnya.
Pedagang yang sebagian besar dari wilayah Kelurahan Loloan Timur, apabila memang harus pindah ke ke gedung kesenian Ir. Soekarno, meminta agar tenda dan gerobak dagangan agar tidak dibongkar pasang seperti saat ini. "Pedagang minta rombong tetap standby di sana (ke gedung kesenian Ir. Soekarno), karena jarak tempuh lebih jauh," ujarnya.
Apabila pemerintah tidak mengabulkan syarat yang diajukan pedagang, maka pedagang keberatan dengan relokasi. Minimal kalaupun harus bongkar pasang, jika siang hari dan tidak beroperasi, pedagang meminta tempat khsusus untuk meletakkan gerobak rombong dan tendanya tidak jauh dari ke gedung kesenian Ir. Soekarno.
Sucipto menyebut ada sekitar 100 pedagang senggol yang ada di pasar senggol, namun yang aktif sekitar 70 pedagang. Sebelumnya sudah ada sosialiasi mengenai relokasi, karena terkait dengan rencana revitalisasi Pasar Umum. Bahkan sudah ke DPRD Jembrana dan bertemu langsung dengan Bupati Jembrana I Nengah Tamba.
Rencananya akhir bulan ini akan digelar sosialisasi terakhir mengenai revitalisasi pasar umum negara dan relokasi pedagang, termasuk relokasi pedagang senggol. Sebelum pertemuan sosialisasi tersebut, pedagang akan dikumpulkan lebih dulu untung menentukan sikap dan syarat-syarat yang diajukan kepada pemerintah. [m.basir/radar bali]
Editor : Hari Puspita