Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Penghijauan Mangrove dari CSR PT Pertamina di Jembrana(1): Hidupkan Habitat, Persilakan Warga Panen Manfaat

Muhammad Basir • Senin, 18 September 2023 | 23:05 WIB
PENJAGA ABRASI : Hutan Mangrove yang dikelola KTH Wana Merta Desa Budeng, salah satu penerima CSR PT. Pertamina. Ribuan bibit pohon yang ditanam menambah luas hutan mangrove.(m.basir/radar bali)
PENJAGA ABRASI : Hutan Mangrove yang dikelola KTH Wana Merta Desa Budeng, salah satu penerima CSR PT. Pertamina. Ribuan bibit pohon yang ditanam menambah luas hutan mangrove.(m.basir/radar bali)

Hutan mangrove di  Budeng, Jembrana, sebagian sempat beralih fungsi menjadi tambak udang. Namun setelah tambak udang tutup, ditanami kembali mangrove, hingga tumbuh jadi hutan mangrove nan rimbun, terhampar menghijau ranau. Penanaman bibit mangrove salah satunya berasal dari corporate social responsibility (CSR) PT. Berikut ini perkembangannya.

HUTAN mangrove Desa Budeng berjarak sekitar 3 kilometer ke selatan dari Kota Negara. Sebelum sampai kawasan hutan, sudah disambut gapura dengan tulisan Ekowisata Mangrove Budeng.

Gapura dengan logo Pemerintah Kabupaten Jembrana dan logo PT. Pertamina itu, dibuat kelompok tani hutan (KTH) Wana Merta, Desa Budeng, salah atau dari dua KTH penerima CSR Pertamina.

KTH Wana Merta, mengelola 25 hektar dari luas total hutan Mangrove Desa Budeng 67 hektare. Sebagian kawasan hutan yang dulunya rawa bekas tambak udang, sudah menjadi kawasan hutan mangrove. Hal tersebut tidak lepas dari peran serta masyarakat, pemerintah dan perusahaan yang peduli lingkungan.

Salah satu perusahan yang membantu, PT. Pertamina melalui program pertamina hijau pada tahun 2022 lalu. Setelah setahun lebih penanaman bibit magrove yang ditanam, saat ini sudah tumbuh besar dan menambah luas hutan mangrove di Jembrana. Karena bibit ditanam di lahan yang sebelumnya hanya berupa endapan lumpur tanpa vegetasi di antara tanaman mangrove.

Melalui sub kegiatan KTH, ekowisata, hasil hutan bukan kayu dan silvofishery, pertumbuhan hutan mangrove berkembang pesat, beriringan dengan manfaat yang diterima masyakarat. "Kelompok tani pengelola hutan mangrove dan masyarakat sekitar pun mendapat manfaatnya.  Manfaat lain yang tidak ternilai bagi lingkungan," ujar Ketua KTH Wana Merta Desa Budeng I Putu Madiasa.

Sebagai catatan, KTH Wana Merta Desa Budeng, menerima bantuan CSR dari Pertamina pada tahun 2022 lalu. Bantuan yang diberikan untuk bibit dan biaya pemeliharaan Rp 945  juta dari total CSR Rp 1,5 miliar. Bibit mangrove yang ditanam sebanyak 50 ribu pohon. Sebagian lagi Rp 405 juta untuk Kelompok Tani Lindu Segara Tanjung Pesisir, Desa Tuwed, Kecamatan Melaya.

Berkat kepedulian semua pihak terhadap hutan mangrove, selain bermanfaat untuk menghijaukan lingkungan, menjadi habitat bagi tumbuhan dan hewan, mangrove juga dapat menghasilkan pendapatan ekonomi bagi masyarakat.

Pengembangan yang dilakukan KTH penerima CSR dari Pertamina sesuai tujuan awal, selain untuk menjaga hutan mangrove tetap lestari. Pengembangannya, hutan mangrove destinasi pariwisata dan edukasi, serta manfaat ekonomi bagi masyakarat sekitar.

Madiasa menjelaskan, KTH Wana Merta selain bergerak untuk mengembalikan hutan mangrove, juga sudah menjadi ekowisata, edukasi, budidaya ikan, budidaya kepiting, budidaya udang dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu. "Misalnya, kami sudah membuat minuman berbahan dauh jeruju," imbuhnya.

Minuman ekstrak dengan bahan bakunya dari daun mangrove sebagai salah satu hasil hutan bukan kayu. Selain minuman jeruju ada juga produksi keripik mangrove.

Bahan utamanya dari buah mangrove jenis yang disebut warga mangrove lindur atau bruguiera gymnorrhiza. "Keripik masih produksi rumahan, belum produksi masal," ungkapnya.

KTH Wana Merta Desa Budeng juga mengelola rumah makan yang bahan bakunya berasal dari hutan mangrove, seperti kepiting, udang, ikan dan hasil olahan lain yang bahan utamanya diambil dari dalam kawasan hutan mangrove Budeng, Baik yang liar ditangkap warga sekitar dan dibudidayakan.

"Kami berikan akses kepada warga untuk masuk ke dalam kawasan hutan mangrove untuk mencari yang hasilnya yang bisa diambil untuk diolah dijual kepada kami untuk UMKM. Kalau yang kecil dikembalikan habitatnya," ungkapnya.

Sebagai ekowisata, tidak hanya wisatawan lokal dan mancanegara sudah datang. Peneliti, pelajar dan mahasiswa juga sudah datang ke KTH Wana Merta, peneliti yang datang tidak hanya dari perguruan tinggi dalam negeri tetapi dari sejumlah negara Asia, Eropa dan Australia.

Sesuai dengan surat keputusan kementerian lingkungan hidup, KTH Wana Merta mengelola 25 hektare hutan mangrove. Karena sudah seratus persen ditanami mangrove, sudah menolak jika ada yang menanam di kawasan yang dikelola KTH Wana Merta. "Tetapi kalau di Budeng sudah 100 persen kawasan hutan mangrove ada pohon, tidak ada lahan kosong yang tanpa mangrove lagi," ungkapnya. [m.basir/radar bali]

 

Editor : Hari Puspita
#bakau #abrasi #penghijauan #jembrana #mangrove