NEGARA, radarbali.id- Lahan pertanian di Jembrana yang mengalami puso, diprediksi semakin meluas jika kekeringan masih berlanjut. Saat ini terdata sudah mencapai 10 hektar lahan pertanian yang sudah dipastikan puso karena mengalami layu permanen.
Seperti lahan pertanian di Banjar Pangkung Buluh, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara. Sekitar 2 hektar lahan padi yang berumur sekitar 2 bulan sudah mulai menguning. Tanah sawahnya juga sudah pecah-pecah karena sudah lama tidak mendapat air.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana I Wayan Sutama mengatakan, lahan petanian yang mengalami kekeringan sebanyak 19,5 hektar dan yang sudah mengalami puso 10 hektar, termasuk lahan pertanian yang ada di Subak Pangkung Bulu, Banjar Pangkung Buluh, Desa Kaliakah. "Melihat kondisinya yang sudah menguning, sudah pasti layu permanen diberikan air banyak pun sudah susah untuk pulih," jelasnya, Senin (18/9).
Namun demikian masih ada lahan pertanian di lokasi lain yang kekeringan sudah bisa diselamatkan dari puso. Salah satu upaya yang dilakukan petani adalah dengan suplai air dari sumur bor, sehingga bisa diselamatkan dari puso. Akan tetapi, subak atau petani harus mengeluarkan biaya pembelian solar untuk mengairi sawah.
Pertanian yang saat ini mengalami puso, diduga disebabkan petani yang nekat menanam meskipun sudah tau musim kemarau dan waktunya menanam palawija. "Kadang petani coba-coba, gambling. Harapanya turun hujan. Ternyata tidak hujan sehingga pertaniannya kering," ungkapnya.
Dengan luasnya lahan pertanian yang puso, tidak ada yang mendapat asuransi pertanian. Karena tidak semua petani atau subak mendaftar asuransi usaha tani padi (AUTP). Saat ini hanya dua subak yang sudah mendaftar AUTP, yakni Subak Kawis Desa Budeng, seluas 16,67 hektar dan Subak Jagaraga Desa Penyaringan seluas 15,96 hektar.
Padahal apabila mendaftarkan asuransi, petani yang mengalami dampak kekeringan hingga puso bisa mendapat asuransi atau ganti rugi yang nilainya sesuai dengan luas lahan yang mengalami keringan. Berdasarkan ketentuan dalam polis klaim akan diperoleh jika, intensitas kerusakan mencapai 75 persen berdasarkan luas petak alami tanaman padi. Pembayaran klaim Rp 6 juta untuk luas lahan satu hektar.
Kekeringan yang terjadi saat ini, diprediksi terjadi hingga bulan Oktober mendatang. Karana bulan Oktober ini sudah mulai turun hujan, sehingga petani sudah bisa mulai melakukan penanaman. "Saat ini juga masih ada yang menanam, seperti di Kecamatan Mendoyo sekitar 50 hektar sudah mulai menanam karena pasokan air lancar," terangnya.
Pihaknya mengimbau petani untuk selalu mengantisipasi kemarau dan kekeringan ini. Apabila masih belum memungkinkan untuk menanam padi, diharapkan menanam palawija. ***
Editor : M.Ridwan