NEGARA, Radar Bali.id - Bendungan Palasari, Desa Ekasari, Kecamatan Melaya, terancam mengalami kekeringan total jika kemarau masih terjadi hingga bulan November mendatang.
Karena kondisi saat ini, dengan sisa air sekitar 230 ribu liter terus mengalami penyusutan karena penguapan.
Karena itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana berharap instansi terkait melakukan upaya antisipasi. Mengingat, berkurangnya air bendungan berdampak menyeluruh, terutama pada pertanian.
"Khawatirnya, kalau sampai dibawah limit, bendungan bisa rusak. Dampaknya pada kebutuhan air sekitarnya, terutama pertanian," ujar Pelaksana tugas (Plt) Kepala BPBD Jembrana I Putu Agus Artana Putra.
Saat ini saja, dengan kondisi air bendungan tersisa sekitar 230 ribu meter kubik menyebabkan hanya 3 subak yang masih bisa dialiri dari bendungan.
Terutama pada bagian blok barat dengan luas 379 hektar yang meliputi Subak Mertasari, Subak Pulemerta, dan Subak Pecatusari.
Air di tiga subak ini juga sudah ditutup karena lahan pertanian sudah panen. Padahal ada 10 subak yang membutuhkan suplai air dari bendungan.
Penurunan volume air Bendungan Palasari sudah terjadi sejak dua bulan lalu, tepatnya sejak bulan Agustus hingga saat ini. Penurunan volume air akan terus terjadi jika kemarau masih terjadi hingga bulan November.
"Volume air yang masih tersisa saat ini, akan terus berkurang karena kemarau dan dampak fenomena El Nino masih berlangsung," ujarnya.
Agus menambahkan, Bendungan Palasari memiliki volume air waduk sebanyak 8 juta meter kubik. Karena mengalami sedimentasi menjadi 7 juta meter kubik. Salah satu penyebabnya, sedimentasi Bendungan ini menjadi salah satu penyebab berkurangnya volume air.
Karena ketika air bendungan normal, banyak yang tidak tertampung di bendungan. Sehingga ketika terjadi penyusutan air, hanya sedikit yang tersisa. "Kalau saya tampung normal, mungkin pengurangan tidak seperti sekarang," imbuhnya.
Agus menjelaskan, assessment terhadap kondisi Bendungan Palasari ini sebagai antisipasi dan mencari solusi oleh dinas terkait. Misalnya untuk kebutuhan air bersih warga akan ditangani sendiri oleh BPBD, sedangkan pertanian yang paling terdampak oleh dinas pertanian dan pangan. [*]
Editor : Hari Puspita