Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Mantap! Aksi Tiga Jam, Kumpulkan Ratusan Kilogram Sampah dari Pantai dan Laut Pengambengan, Jembrana

Muhammad Basir • Sabtu, 4 November 2023 | 18:00 WIB
BERSIH-BERSIH PANTAI : Pembersihan sampah di laut Pengambengan oleh PPN Pengambengan , Kamis 26 Oktober Lalu. (PPN Pengambengan untuk Radar Bali)
BERSIH-BERSIH PANTAI : Pembersihan sampah di laut Pengambengan oleh PPN Pengambengan , Kamis 26 Oktober Lalu. (PPN Pengambengan untuk Radar Bali)

NEGARA, Radar Bali.id - Temuan sampah plastik dalam pencernaan hiu paus yang mati di Pantai Kecamatan Pekutatan dalam dua bulan terkahir, salah satu bukti bahwa laut saat ini darurat sampah plastik. Karena sampah plastik di laut bisa merusak ekosistem laut dan berbahaya juga bagi manusia yang notabene penyebab kotornya laut dari sampah plastik.

Masalah sampah laut ini, juga menjadi salah satu genda prioritas Kementrian Kelautan dan Perikanan dengan kebijakan pembersihan sampah plastik di laut melalui gerakan partisipasi nelayan atau bulan cinta laut.

"Sampah di laut, terutama sampah plastik masalah utama yang dihadapi kita saat ini," ujar Koordinator Satuan Kerja Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Jembrana Andri Purna Jatmiko, Jumat (3/11/2023).

Menurutnya, temuan sampah plastik dalam pencernaan hiu paus mati terdampar yang dibedah atau dinekropsi, bisa menjadi indikator matinya hiu paus. Secara umum, sampah plastik ini membahayakan ekosistem laut, merusak habitat yang hidup di laut. "Dampak sampah plastik ini jangka pendek dan juga jangka panjang," ungkapnya.

Karena habitat yang rusak karena sampah plastik, maka ikan akan berkurang dan merugikan bagi nelayan. Karena itulah Kementrian Kelautan dan Perikanan menjadikan pembersihan sampah di laut dengan melibatkan nelayan menjadi program prioritas.

Selain itu, sampah sampah plastik yang dimakan ikan, selain bisa membahayakan bagi keberlangsungan hidup ikan, juga membahayakan bagi manusia.

Sampah plastik yang dimakan ikan, ada yang bisa dicerna dan tidak bisa dicerna. Sampah yang tidak bisa dicegah bisa berakibat fatal bagi ikan yang memakan.

Lebih berbahaya adalah mikro plastik pada ikan yang memakan plastik, ketika ikan sudah terkontaminasi mikro plastik membahayakan juga bagi manusia yang memakan ikan. "Mikro plastik membahayakan bagi kesehatan manusia, bisa menjadi penyebab kanker," terangnya.

Dalam menjaga laut dari sampah plastik, memerlukan upaya serius semua pihak, mulai dari hulu hingga hilir. Selain pembersihan laut secara berkala oleh pemerintah, swasta dan masyarakat, sampah harus dikelola dari sumbernya.

"Terpenting kesadaran masyarakat, mengelola sampah dari sumbernya, tidak membuang sampah ke lingkungan.  Karena sebanyak apapun yang dibersihkan, tetapi sampah yang dibuang masyarakat ke lingkungan lebih banyak, maka tidak akan putus. Tetap saja ada sampah di laut," terangnya.

Pembersihan sampah di laut dan pantai, sudah sering dilakukan oleh sejumlah instansi. Terbaru, dalam kegiatan Bulan Cinta Laut digelar Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan yang melibatkan sejumlah instansi, Kamis (26/10/2023) lalu.

"Kalau untuk menjaga kebersihan dermaga di PPN, kita lakukan setiap hari setelah kegiatan bongkar ikan selesai," terangnya.

Hasil sampah yang diambil dari pantai dan laut, khususnya dalam kolam labuh Pengambengan pada saat Bulan Cinta Laut sebanyak  617 kilogram, sebanyak 115 kilogram di antaranya merupakan sampah plastik.

Padahal kegiatan yang dilakukan hanya sekitar 3 jam. "Kegiatan ini  rutin digelar," ujar Kasubbag Umum PPN Pengambengan Lukman Hadi.

Dijelaskan, manfaat dari kegiatan bulan cinta laut, menumbuhkan pemahaman masyarakat tentang bahaya sampah plastik, memberikan tambahan pendapatan untuk sampah yang dapat di daur ulang, menjaga habitat hewan dan tumbuhan serta kawasan pesisir dan menciptakan ekonomi sirkular menuju implementasi ekonomi biru.

Sementara di darat, untuk mencegah sampah terbuang ke lingkungan lalu bermuara ke laut karena terbawa hujan dan aliran sungai, Pemerintah Kabupaten Jembrana sudah melakukan sejumlah upaya untuk mengatasi.

Diantaranya membentuk pengelolaan pengelolaan sampah terpadu tingkat desa dan pengelolaan sampah dari sumber. Serta melibatkan pihak ketiga untuk mengelola sampah. "Masalah sampah ini sudah kami upayakan mengatasi dari sumbernya, salah satunya dengan program kedas," Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jembrana Dewa Gede Ary Candra Wisnawa.

Dalam mengatasi sampah ini, perlu adanya peran aktif masyarakat terutama dalam mengelola sampah rumah tangga. Karena sebagian besar sampah di Jembrana berasal dari rumah tangga, apabila dikelola dengan baik maka tidak akan ada sampah terbuang ke lingkungan. [*]

 

Editor : Hari Puspita
#jembrana #sampah #Bersih Pantai