NEGARA, Radar Bali.id - Proposal bantuan untuk korban bencana yang terjadi di Jembrana belum semua terealisasi. Dari total sekitar Rp 2,5 miliar usulan untuk korban bencana, sekitar Rp 400 juta belum terealisasi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana juga masih menyiapkan proposal bantuan korban kebakaran yang terjadi baru-baru ini.
Kepala Bidang Rehabilitasi Dan Rekonstruksi BPBD Jembrana I Made Sapta Budiarta mengatakan, pada tahun anggaran 2023, realisasi bantuan sosial berupa uang untuk perbaikan sarana dan prasarana perekonomian masyarakat, rumah masyarakat dan fasilitas umum di Jembrana sebesar Rp 2,1 miliar. "Bantuan penanggulangan dari BPBD Provinsi Bali," jelasnya.
Realisasi bantuan terbanyak untuk korban banjir bandang sungai Bilukpoh, di Kelurahan Tegalcangkring dan Desa Penyaringan sebanyak 62 penerima.
Kemudian kebakaran pasar adat Lelateng, Kelurahan Lelateng, dimana bantuan pada pengelola pasar adat dan bantuan kepada pedagangnnya.
Namun masih ada proposal bantuan yang sudah disampaikan kepada provinsi belum terealisasi tahun 2023, nilainya baru sekitar Rp 400 juta saja. Proposal bantuan sebanyak 33 proposal mulai dari kerusakan perahu akibat cuaca ekstrem dan proposal bantuan untuk korban kebakaran.
Bantuan belum direalisasikan tahun anggaran 2023 ini, karena keterbatasan waktu penyelesaian laporan pertanggung jawaban penggunaan dana bantuan yang harus sudah selesai paling lambat 10 Januari 2024 sesuai Pergub Bali no 37 tahun 2023. "Proposal sudah diprovinsi, tinggal menunggu realisasi pasa tahun anggaran 2024," tegasnya.
Selain proposal yang sudah diajukan dan menunggu realisasi, pihaknya sudah melakukan assesment sudah melakukan assesment terkait kejadian kebakaran yang terjadi di beberapa lokasi di Jembrana. "Saat ini masih dalam proses melengkapi proposal untuk diusulkan tahun anggaran 2024," ujarnya.
Sapta menjelaskan, belum lama ini sudah melakukan assesment dua lokasi kebakaran di wilayah Kecamatan Jembrana. Diantaranya, kemabarns yang terjadi ada Rabu, (6/12/2023) lalu di Banjar Sawe, Desa Batuagung. Kebakaran eumah I Putu Mahardika yang disebabkan karna kelalaian dalam penggunan obat nyamuk bakar.
Kejadian tersebut menyebabkan sebuah kamar yang berukuran 3x3 meter terbakar. Kebakaran mengakibatkan pakaian sehari-hari, kasur, pakaian sekolah anaknya, buku sekolah dan perlengkapan sekolah dalam sebuah lemari pelastik juga terbakar. "Kerugian yang di peroleh dari kejadian tersebut mencapai kurang lebih tiga juta rupiah," jelasnya.
Kemudian assesment kebakaran yang terjadi, Minggu, (10/12) sekitar 02.30 Wita yang berlokasi di Banjar Tibu Kleneng, Desa Perancak. Kebakaran rumah I Nyoman Darmayasa, 57, yang awalnya diduga disebabkan korsleting listrik, ternyata disebabkan oleh dupa persembahyangan.
Kebakaran kamar suci hingga atap mengalami kerusakan. Kerugian diperkirakan mencapai kurang lebih tiga juta rupiah. "Kami lengkapi berkas dulu untuk dua kasus kebakaran yang terjadi. Usulan akan disampaikan untuk realisasi anggaran tahun 2024," tandasnya. [*]
Editor : Hari Puspita