Problem stunting dan kemiskinan ekstrem menandai salah satu program prioritas Bupati Jembrana, I Nengah Tamba pada tahun 2023. Sejumlah kebijakan penanggulangan stunting sudah dilakukan. Di antaranya kebijakan Bapak atau Bunda Asuh Anak Stunting (BAAS).
BUPATI Jembrana, I Nengah Tamba mengajak segenap elemen masyarakat bahu membahu mempercepat penurunan angka stunting di Jembrana. Permasalah stunting menjadi tantangan bersama, sehingga semua pihak harus bergandeng tangan menanggulangi stunting.
Salah satu caranya dengan meluncurkan program BAAS. Lewat program ini, Bupati Tamba menggerakan seluruh Kepala OPD dan pimpinan swasta untuk memberikan pendampingan kepada anak stunting secara berkelanjutan. “Tujuan dari program ini untuk mencukupi kebutuhan makan bergizi bagi anak-anak,” ujarnya.
Program BAAS ditargetkan berlangsung selama enam bulan. Selama periode tersebut anak stunting akan mendapat pemantauan dan evaluasi secara rutin.
Bantuan yang disalurkan pun disesuaikan dengan kebutuhan. Sehingga dapat mempercepat penurunan angka stunting.
Bupati juga menekankan sosialisasi pencegahan stunting juga harus dilakukan secara masif. Kader desa harus menyasar masyarakat hingga pelosok desa. “Pencegahan dapat dimulai dengan sosialisasi kepada para remaja maupun calon pengantin. Sehingga mereka dapat memahami bagaimana mempersiapkan gizi yang tepat untuk calon bayi,” jelasnya.
Wakil Bupati Jembrana, I Gede Ngurah Patriana Krisna juga gencar menjalankan program BAAS, dengan membawakan bahan makanan sehat untuk anak dengan kondisi stunting. Bantuan yang disalurkan berdasarkan iuran pribadi secara sukarela. “Program BAAS ini memberikan makanan tambahan kepada anak-anak yang menderita stunting, agar gizi anak tersebut meningkat, ” ujarnya.
Wabup Ipat berpesan kepada orang tua, agar fokus memberikan makanan tambahan yang sesuai. Sehingga perkembangan anak menjadi lebih baik dan terhindar dari stunting. Dirinya berharap, setelah adanya intervensi melalui Program BAAS, anak-anak bisa keluar dari kategori stunting.
Selain itu, Bupati Tamba juga gencar turun tangan langsung melakukan sosialisasi cegah stunting kepada kelompok remaja. “Pencegahan Stunting kita garap dari hulu. Remaja kami harap mentaati usia pernikahan ideal, 21 tahun untuk wanita, dan 25 tahun untuk pria,” ungkap Tamba.
Dia juga mengingatkan agar generasi muda mengisi waktu luang dengan aktivitas yang positif sesuai fasilitas yang telah disediakan. “Tingkatkan kualitas diri dan mengembangan diri dengan mengikuti pelatihan keterampilan serta mengikuti pendidikan sampai tuntas dan bahkan sampai perguruan tinggi,” ujarnya. [*]
Editor : Hari Puspita