Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Liku-Liku Pengembangan Jalak Bali di Jembrana : Gegara Kemarau Ekstrem, Populasi di Hutan pun Menurun

Muhammad Basir • Rabu, 17 Januari 2024 | 06:35 WIB
MENURUN POPULASI KARENA CUACA EKSTREM: Jalak Bali di kandang habituasi sebelum dilepasliarkan di kawasan hutan Cekik, Gilimanuk.(basir/radar bali)
MENURUN POPULASI KARENA CUACA EKSTREM: Jalak Bali di kandang habituasi sebelum dilepasliarkan di kawasan hutan Cekik, Gilimanuk.(basir/radar bali)

Cuaca yang ekstrem ternyata berpengaruh kuat terhadap populasi burung dengan nama ilmiah Leucopsar rothschildi ini. Pada musim kemarau tahun 2023. Populasinya menurun. Diduga berkurangnya populasi Jalak Bali di alam liar ini, jelajahnya keluar dari kawasan hutan sehingga luput dari pantauan dan pendataan.

TAK hanya tanaman yang terimbas. Berkurangnya populasi curik tersebut, berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan pada bulan April 2023, masih terpantau sebanyak 600 ekor di dalam kawasan hutan.

Terutama di lokasi yang memang menjadi tempat pelepasliaran jalak putih ini. "Kami rutin melakukan monitoring untuk memastikan jalak bali di ekosistemnya," ujarnya I Putu Arya Gede Kusdyana, fungsional pengendali ekosistem Taman Nasional Bali Barat (TNBB).

Kemudian pada delapan bulan kemudian, bulan November 2023, pemantauan kembali untuk memastikan kondisi Jalan Bali dns satwa lainnya di dalam kawasan. Ternyata hanya terpantau sebanyak 552 ekor Jalan Bali di dalam kawasan hutan.

Menurutnya, tidak diketahui secara pasti penyebab berkurangnya jalak bali di kawasan hutan ini. Namun dari analisa yang dilakukan, bukan karena mati akibat dari kekeringan yang membuat kebutuhan air dan makanan yang berkurang. "Kalau memang mati, ada bukti yang kami temukan. Tetapi dari monitoring kami tidak ada bukti kuat," ungkapnya.

Prediksinya, Jalak Bali berkurang dari dalam kawasan hutan karena jelajahnya di luar kawasan. Mengingat, daya jelajah burung endemik TNBB ini, memungkinkan hingga keluar kawasan untuk mencari makan dan air. Hal tersebut dibuktikan dengan temuan Jalak Bali di luar kawasan hutan, seperti di kebun dan pemukiman warga di Dusun Sumbersari, Desa Melaya.

Jelajah jalak bali hingga keluar dari kawasan ini, salah satu dampak dari kekeringan yang terjadi pada tahun 2023. Padahal pada saat terjadi kekeringan sudah ada upaya untuk menjaga kelestarian satwa dengan menyediakan air di tempat berkumpulnya satwa. "Satwa liar ini meksipun sudah ada tambahan makanan, masih mencari ke tempat lain yang memungkinkan ada sumber makanan," ungkapnya.

Mengenai indikasi perburuan liar jalak bali, kecil kemungkinan terjadi. Karena sejak lima tahun terakhir sudah tidak ada temuan adanya perburuan jalak bali di dalam kawasan hutan TNBB. Justru yang masih terjadi perburuan mamalia, seperti babi hutan, rusa, menjangan dan satwa lain yang ada dalam kawasan hutan TNBB. "Dalam lima tahun terakhir tidak ada perburuan yang ada mamalia," tegasnya. [*]

 

Editor : Hari Puspita
#jalak bali #Leocopsar rothchildi #curik bali