Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Awas! Musim Pancaroba, Perubahan Cuaca Berisko DBD Melonjak Lagi

Muhammad Basir • Selasa, 14 Mei 2024 | 02:10 WIB
ilustrasi potensi DBD-JawaPos.com
ilustrasi potensi DBD-JawaPos.com

NEGARA, Radar Bali.id - Perubahan cuaca yang terjadi saat ini, bisa berdampak pada peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jembrana. Dalam empat bulan terakhir ini, sudah ada 129 kasus positif DBD. Sehingga perlu diwaspadai dengan upaya pencegahan.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Jembrana sepanjang bulan Januari - April tahun 2024 ini, sudah ada 129 kasus positif DBD. Dengan. Rincian Januari 12 kasus, Februari 18 kasus dan bulan Maret 46 kasus dan bulan April meningkat menjadi 53 kasus positif DBD.

Namun demikian menurut Kepa Dina Kesehatan Jembrana I Made Dwipayana, meskipun ada kecenderungan meningkat dalam tiga bulan terakhir ada penurunan drastis kasus DBD dibandingkan tahun lalu diperiode bulan yang sama. "Memang ada tren peningkatkan di empat bulan terkhir ini. Tapi dibandingkan tahun lalu di bulan yang sama jauh menurun," ujarnya.

DBDBaca Juga: Di Buleleng DBD Capai 716 Kasus, Ini Imbauan untuk Masyarakat

Dalam lima tahun terakhir, kasus yang terbaik pada tahun 2023 lalu juga tertinggi. Dimana selama setahun 2023 sebanyak 435 kasus, lebih tinggi dari tahun 2022 sebanyak 347 kasus, tahun 2021 sempat turun drastis sebanyak 96 kasus, setahun sebelumnya pada 2020 tercatat ada 267 kasus dan tahun 2020 juga terjadi kasus kematian karena DBD.

Dwipayana menegaskan, cuaca menjadi salah satu penyebabnya. Do tengah kondisi saat ini, dimana  kadang terjadi hujan deras dan panas beberapa saat, berpotensi menimbulkan peningkatan jumlah kasus.

Karena nyamuk bisa berkembang biak lebih masif. "Perubahan cuaca meningkatkan nyamuk berkembang biak cukup cepat," ujarnya.

Selian itu, mobilitas masyarakat juga mempengaruhi. Ketika ada seseorang yang datang, dari zona merah maka berpotensi membawa virus.

Apalagi, datang dalam kondisi sakit, misalnya pelajar atau pekerja dari Denpasar pulang ke Jembrana karena sakit DBD, sehingga berpotensi membawa virus.

Karena itu, untuk mencegah peningkatan kasus DBD ini, dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Karena DBD ini penyakit berbasis lingkungan, maka peran aktif masyarakat dibutuhkan untuk pencegahan.

"Menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan lebih penting dalam mengantisipasi DBD," tegasnya.

Sedangkan foging yang dilakukan pemerintah hanya dilakukan ketika ada kasus di sekitar lokasi untuk membunuh nyamuk dewasa. Foging atau pengasapan juga dilakukan di daerah  endemik zona merah DBD untuk mencegah munculnya kasus. [*]

Editor : Hari Puspita
#pancaroba #dbd #jembrana #demam berdarah