Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Berisiko Gelombang Tinggi Akibat Dampak Cuaaca Ekstrem, BMKG Jembrana Ingatkan Warga Waspada

Muhammad Basir • Jumat, 7 Juni 2024 | 15:55 WIB

 

CUACA SEDANG BURUK : Gelombang tinggi terjadi di perairan Selat Bali, terpantau di pesisir Pantai Pebuahan, Desa Banyubiru.. (m.basir/radar bali)
CUACA SEDANG BURUK : Gelombang tinggi terjadi di perairan Selat Bali, terpantau di pesisir Pantai Pebuahan, Desa Banyubiru.. (m.basir/radar bali)

NEGARA, Radar Bali.id - Memasuki musim kemarau, gelombang tinggi terjadi di perairan Jembrana. Gelombang tinggi terjadi terutama pada bulan mati atau dalam bahasa Bali tilem dan pada saat purnama.

Gelombang tinggi dan angin kencang, diprediksi terjadi lebih tinggi lagi pada puncak kemarau antara bulan Juli dan Agustus mendatang.

Gelombang tinggi dan angin kencang di perairan Jembrana terjadi Kamis (6/6/2024). Akibat gelombang tinggi ini, rumah warga yang berada di pesisir pantai terdampak gelombang tinggi yang terjadi.

Seperti pesisir pantai Pabuahan, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara. Gelombang tinggi membuat rumah warga rusak terutama yang berada di daerah terdampak abrasi.

Stasiun Klimatologi (Staklim) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jembrana menyampaikan, gelombang tinggi dan angin kencang yang terjadi saat ini salah satu dampak dari musim kemarau yang sudah mulai sejak akhir bulan Mei lalu.

"Tapi gelombang tinggi yang terjadi saat ini masih dalam kategori rendah dan sedang, tapi harus diwaspadai juga," ujar Prakirawan Staklim Bali BMKG Jembrana Heppy Febriana Abdi Bintari, Kamis (6/6/2024).

Menurutnya, gelombang tinggi yang terjadi di perairan Bali saat ini berkisar antara 2- 4 meter. Tinggi gelombang ini terjadi siang hingga sore hari. "Kalau sekarang ini sebenarnya masih awal, pada sat puncak kemarau nanti akan terjadi gelombang tinggi lebih tinggi lagi dari sekarang," ungkapnya.

Puncak kemarau nanti terjadi antara bulan Juli hingga Agustus. Pada saat puncak kemarau terjadi, gelombang tinggi dan angin kencang terjadi dengan tingkat lebih tinggi lagi. 

"Kalau kemarau itu identik dengan angin kencang, maka gelombang juga akan tinggi," ungkapnya.

Karena itu, pihaknya setiap saat mengeluarkan peringatan dini terutama gelombang tinggi kepada masyarakat, terutama nelayan, penyeberangan dan aktivitas lain yang berada di laut dan pinggir laut.

"Kami berharap masyarakat lebih waspada dengan kondisi perairan ketika terjadi gelombang tinggi ini," terangnya.

Heppy menambahkan, karena potensi gelombang tinggi masih terjadi mengimbau kepada pihak pelaksana pekerjaan senderan pantai Pebuahan, Desa Banyubiru untuk memperhatikan kondisi cuaca. Pelaksanaan pekerjaan senderan harus menyesuaikan pasang dan surut air laut.[*]

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Hari Puspita
#nelayan #jembrana #cuaca ekstrem