NEGARA, Radar Bali.id -Banjir bandang Sungai Bilukpoh, Kecamatan Mendoyo yang terjadi pada tahun 2022 lalu, masih berpotensi terjadi lagi. Karena berdasarkan pengecekan di hulu sungai, terdapat longsor yang menutup sebagian sungai.
Tertutupnya aliran sungai di hulu ini, berpotensi menjadi penyebab banjir besar yang bisa datang sewaktu -waktu. Terutama ketika hujan deras terjadi di hulu sungai.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana I Putu Agus Artana Putra mengatakan, pihaknya sudah melakukan pemetaan daerah potensi terjadi bencana menghadapi musim hujan yang akan terjadi. Salah satunya potensi terjadinya banjir bandang yang rawan terjadi di daerah aliran sungai (DAS) Jembrana. ”Sungai Bilukpoh salah satu das yang rawan karena sudah berulangkali terjadi,” jelasnya.
Karena potensi banjir bandang Sungai Bilukpoh besar terjadi, pihaknya mendampingi tim Badan Geologi melakukan pemantauan langsung ke hulu sungai untuk melaksanakan penyelidikan potensi banjir bandang Sungai Bilukpoh. Pengecekan dengan drone itu, untuk melakukan pemodelan hulu Sungai Bilukpoh.
Dari pantauan kamera drone di hulu sungai, tepatnya di tengah hutan utara Jembrana terdapat tebing sungai yang longsor menutup sebagian das. Kondisi ini dikhawatirkan nantinya bisa membendung air sungai dan pada saat hujan deras terjadi di hulu sungai material longsor jebol menjadi banjir bandang. ”Kalau sekarang karena air masih kecil, belum terlihat dampaknya. Nanti saat musim hujan, bisa menyebabkan banjir," ungkapnya.
Pihaknya akan berkoordinasi dengan instansi dan Balai Wilayah sungai Bali Penida terkait mengenai kondisi hulu sungai ini. Karena sebelum banjir bandang terjadi, perlu segera dilakukan penanganan longsor. ”Cuma masalahnya, lokasi longsor cukup jauh di tengah hutan dan sulit diakses kendaraan," ujarnya.
Seperti diketahui, banjir bandang Sungai Bilukpoh perbatasan Kelurahan Tegalcangkring dan Desa Penyaringan terjadi pada bulan Oktober 2022 lalu. Banjir bandang membawa material tanah dan pohon dari tengah hutan hingga ke laut. Banjir bandang juga menyebabkan kerusakan bangunan pemukiman warga di sepanjang DAS.
Bahkan sejumlah jembatan putus total dan satu orang tewas karena terbawa arus Banjir Bandang saat melintasi sungai yang putus. Banjir bandang juga menyebabkan Jalan Nasional Denpasar - Gilimanuk lumpuh total selama beberapa hari.[*]
Editor : Hari Puspita