Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Rumah Panggung Loloan, Jembrana, yang Sudah Semakin Langka Saat Ini: Jumlah Tak Sampai 100, Terus Digerogoti Usia

Muhammad Basir • Senin, 4 November 2024 | 20:50 WIB

 

SEMAKIN LANGKA : Salah satu rumah panggung di Loloan, Jembrana, yang masih bertahan di Kelurahan Loloan Timur, Kecamatan Jembrana.(m.basir/radar bali)
SEMAKIN LANGKA : Salah satu rumah panggung di Loloan, Jembrana, yang masih bertahan di Kelurahan Loloan Timur, Kecamatan Jembrana.(m.basir/radar bali)

Rumah panggung Loloan salah satu ciri khas dari kampung Loloan yang masih lestari. Sayangnya, jumlahnya semakin menyusut karena dijual dan rusak lantaran  termakan usia dan rusak akibat bencana.

SEMAKIN sedikit. Saat ini hanya tersisa sekitar 60 unit rumah panggung di Kelurahan Loloan Barat maupun di Kelurahan Loloan Timur.

Pendataan terakhir rumah panggung Loloan dilakukan pada tahun 2013 lalu untuk bahan penelitian. Saat itu terdata 84 rumah panggung di dua kelurahan tersebut, tetapi setiap tahun berkurang sehingga diperkirakan tersisa sekitar 60 unit rumah.

”Sudah banyak berkurang. Kami khawatir akan terus berkurang jika tidak ada upaya pelestarian,” ujar Kepala Lingkungan Loloan Timur Muztahidin.

Berkurangnya rumah panggung Loloan ini karena banyak yang dijual pemiliknya dan diganti dengan bangunan rumah baru permanen. Rumah panggung Loloan dengan bahan utama kayu sudah berusia ratusan tahun, bahkan ada yang berusia sekitar 300 tahun. Karena itu, banyak kolektor yang sengaja membeli rumah panggung Loloan.

Selain karena dijual pemiliknya, rumah panggung Loloan banyak yang rusak karena sudah termakan usia. Hanya ada beberapa orang pemilik yang mempertahankan rumah panggung yang memperbaiki beberapa bagian yang rusak. ”Banyak juga yang sudah rusak tidak diperbaiki karena pemiliknya tidak punya biaya,” ungkapnya.

Rusaknya rumah panggung juga banyak karena bencana. Seperti karena angin puting beliung awal bulan Oktober lalu, sebanyak 8 unit rumah panggung rusak ringan, rusak sedang dan rusak berat.

Rumah panggung yang rusak berat ini, masih ada yang belum diperbaiki karena kerusakan cukup berat.

Sebagian besar merupakan rumah panggung karena puting beliung pada bagian atap rumah. Kondisi kayu yang sudah lapuk, membuat sebagian atap ambruk. ”Sudah ada rumah yang diperbaiki sendiri pemilik, tapi banyak yang belum diperbaiki,” imbuhnya.

Pria yang aktif di organisasi Gerakan Pemuda Loloan ini menambahkan, mengenai keberadaan rumah panggung Loloan sempat ada kabar gembira bahwa rumah panggung yang sudah berusia ratusan tahun masuk dalam kategori diduga cagar budaya. ”Masih diduga cagar budaya, tetapi belum disebut sebagai cagar budaya,” ungkapnya.

Muztahidin berharap rumah panggung Loloan ini segera menjadi cagar budaya. Karena dengan menjadikan cagar budaya, upaya -upaya pelestarian rumah panggung Loloan ini bisa lebih terencana dan mendapat dukungan dari pemerintah untuk upaya pelestariannya. [*]

Editor : Hari Puspita
#loloan #jembrana #rumah panggung