NEGARA, Radar Bali.id – Ada sejumlah pekerjaan rumah (PR) untuk pemimpin baru Jembrana. Sebanyak 7 Jembatan di Jembrana dalam kondisi rusak.
Dua di antaranya putus total dampak bencana yang terjadi tahun beberapa tahun lalu, hingga saat ini masih belum diperbaiki.
Selain jembatan, jalan kabupaten sepanjang 214,21 kilometer mengalami kerusakan. Karena itu, butuh anggaran ratusan hingga miliar rupiah untuk memperbaiki kerusakan jembatan dan jalan tersebut.
Kepala Bidang Bina Marga pada Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Pemukiman Jembrana Gede Sony Indrawan mengatakan, jembatan yang tidak di Jembrana ini membutuhkan anggaran tidak sedikit sehingga hanya bisa dikerjakan secara bertahap.
Dalam setahun ini, belum tentu bisa mengerjakan seluruh jembatan yang rusak tersebut. ”Pengerjaan pasti bertahap, melihat skala prioritas,” ungkapnya.
Dari total 7 jembatan yang rusak tersebut, 2 diantaranya karena bencana. Seperti jembatan penghubung Banjar Munduk Ranti Desa Melaya dengan Banjar Pebuahan Desa Banyubiru. Jembatan yang diterjang banjir tahun 2022 lalu, kondisinya miring dan putus total di dua sisinya sehingga tidak bisa dilewati. Karena harus bangun ulang jembatan, anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 6 miliar.
Kondisi serupa juga terjadi pada jembatan gantung Nusamara, Banjar Nusamara, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo.
Jembatan putus putus total hanya menyisakan puing-puing besi setelah diterjang banjir pada 4 November 2021. Padahal terdapat sekitar 19 kepala keluarga (KK) yang membutuhkan jembatan, karena terisolir jika hujan dan air sungai tinggi.
Saat air surut, warga masih bisa beraktivitas melintasi sungai tang tidak terlalu dalam. Namun saat air sungai naik, terutama pada saat musim hujan maka warga tidak bisa beraktivitas. Jembatan dengan bentang sekitar 45 meter ini sempat diusulkan anggaran tetapi belum bisa dilaksanakan.
Perbaikan jembatan, tergantung ketersediaan anggaran. Karena dengan jumlah jembatan yang rusak dan tingkat kerusakan, membutuhkan anggaran miliaran rupiah.
Perbaikan jembatan tahun 2024 ini, sudah direncanakan untuk membangun ulang jembatan penghubung Banjar Munduk Ranti dengan Banjar Pebuahan.
”Perbaikan jembatan bertahap, karena melihat ketersediaan anggaran,” terangnya.
Sony menambahkan, selain jembatan kondisi jalan kabupaten dari total 1.003,74 kilometer, sepanjang 214,21 kilometer atau 21,34 persen mengalami kerusakan, baik rusak ringan dan berat. Sepanjang 789,53 kilometer atau sekitar 78,66 persen jalan kabupaten dalam kondisi mantap atau kondisi baik dan sedang. ”Jalan yang rusak ini perlu segera diperbaiki,” imbuhnya.
Perbaikan jalan rusak ini, lanjutnya, apabila ingin dituntaskan, maka membutuhkan anggaran sekitar Rp 400 miliar.
Karena biaya yang dibutuhkan setiap 1 kilometer antara Rp 1,5 miliar hingga Rp 2 miliar. Pada tahun 2024 lalu, selam setahun anggaran memperbaiki 31 kilometer dengan anggaran sekitar Rp 46,5 miliar.
Menurutnya, antara perbaikan dengan kerusakan jalan, setiap tahunnya lebih banyak jalan yang mengalami kerusakan. Karena penggunaan dan usia jalan, setiap saat selalu ada jalan baru yang rusak sedangkan kerusakan jalan sebelumnya belum diperbaiki.
”Jalan itu tidak diam, setiap tahun pasti ada kerusakan karena pengunaan dan usia,” ungkapnya.
Perbaikan infrastruktur jalan maupun jembatan, kuncinya pada ketersediaan anggaran. Selain dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Jembrana, sumber anggaran bersalah dari bantuan keuangan khusus (BKK) Badung maupun provinsi.
Mengingat, anggaran dari dana alokasi khusus (DAK) dari pemerintah pusat untuk perbaikan infrastruktur yang minim belum bisa menuntaskan perbaikan seluruhnya.
Dalam anggaran APBD Jembrana tahun 2025 ini, fokus memperbaiki ruas jalan kabupaten sepanjang panjang 6,17 kilometer di enam titik lokasi berbeda. Peningkatan infrastruktur jalan juga dibantu BKK Badung untuk memperbaiki 16 titik jalan kabupaten dan 2 titik jalan desa dengan total panjang 27,68 kilometer.
”Kuncinya anggaran. Semakin banyak ketersediaan anggaran, semakin banyak perbaikan jalan yang dilakukan,” tandasnya. [*]
Editor : Hari Puspita