NEGARA, Radar Bali.id - Lahan pertanian padi di Jembrana terdampak angin kencang dan hujan yang terjadi beberapa hari terkahir.
Puluhan hektare padi rebah dan terancam gagal panen jika tidak segera dipanen. Namun risikonya, hasil pertanian tidak maksimal karena padi yang rebah belum waktunya panen.
Lahan pertanian padi yang rebah total 87,75 hektare, sementara tersebar di tiga kecamatan di Jembrana dengan luas lahan yang rebah terbanyak di Kecamatan Negara seluas 52.75 hektar, Mendoyo 31 hektare, Jembrana 4 hektare, Pekutatan belum ada laporan padi rebah dan Melaya masih dalam proses pendataan.
”Angin kencang berdampak cukup besar terhadap pertanian padi,” ujar Kepala Bidang Pertanian, Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana I Komang Ngurah Arya Kusuma.
Dari pengamatan dan pendataan, rata-rata umur padi mendekati panen. Pagi masih hijau, sehingga berisiko rusak jika tidak segera dipanen lebih awal. Jika tidak segera dipanen lebih awal, lanjutnya, dikhawatirkan padi yang sudah tua dan terendam air lama tumbuh. ”Solusinya padi yang rebah memang upaya yang bisa dilakukan panen lebih awal,” ujarnya.
Namun risikonya jika panen lebih awal, kualitas gabah menurun. Kadar air yang tinggi dan beras yang dihasilkan pecah.
”Memang kalau padi sudah rebah, tidak berbuat apa. Kalau panen lebih awal belum waktunya hasilnya kurang bagus, tapi kalau tidak panen awal padinya tumbuh,” ujarnya.
Pada saat pemantauan kemarin, sejumlah lahan pertanian padi yang rebah belum siap panen. Dengan kondisi itu, diharapkan tidak terjadi hujan sehingga padi selamat dari gagal panen. ”Saat monitoring dan pendataan, kami sudah imbau petani untuk melakukan upaya penyelamatan padi dari gagal panen,” ungkapnya.
Di tengah cuaca ekstrem ini, pihaknya mengerahkan seluruh petugas lapangan untuk melakukan pemantauan dan pendataan. Karena padi rebah masih berpotensi terjadi dan lebih banyak lagi dalam beberapa hari ke depan. [*]
Editor : Hari Puspita