Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Lagi, Nelayan Jembrana Temukan Jenazah Penumpang Kapal KMP Tunu Pratama Jaya, Total Temuan 44 Orang

Muhammad Basir • Jumat, 11 Juli 2025 | 12:51 WIB
TEMUKAN JENAZAH : Muhammad Fadjri (kanan)!bersama anaknya Yuzril Hakim (kiri), nelayan asal Banjar Pebuahan yang menemukan korban meninggal. (foto:M.Basir/Radar Bali)
TEMUKAN JENAZAH : Muhammad Fadjri (kanan)!bersama anaknya Yuzril Hakim (kiri), nelayan asal Banjar Pebuahan yang menemukan korban meninggal. (foto:M.Basir/Radar Bali)

NEGARA, Radar Bali.id - Lagi-lagi nelayan Jembrana dapat temuan jasad di laut.  Muhammad Fadjri, 60, tidak menyangka saat memancing bersama anaknya Yuzril Hakim, 22, menemukan jenazah mengapung di perairan selatan Desa Perancak, Kecamatan Jembrana, Kamis (10/7/2025).

Jenazah diduga salah satu korban Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya, dibawa ke pesisir dekat rumah kedua nelayan ini di Pantai Pebuahan, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara.

Nelayan asal Banjar Pebuahan, Desa Banyubiru ini tetap pulang membawa ikan hasil tangkapan dan jenazah yang sudah membusuk. Meskipun hasil memancing hanya mendapat 10 ekor ikan tongkol. ”Kasihan kalau dibiarin, itu mayat manusia. Pasti keluarganya bingung mencari," kata Fadjri.

Menurutnya, saat berangkat melaut bersama anaknya, Kamis pagi setelah salat subuh sekitar pukul 05.00 Wita, menggunakan perahu dari pantai Pebuahan mengarah ke timur. Saat sedang memancing di perairan selatan Desa Perancak, sekitar pukul 07.30 Wita, melihat sekumpulan burung di kejauhan.

Fadjri dan anaknya sudah mengira bahwa burung mengerumuni sesuatu seperti mayat manusia. Dugaan itu dikuatkan dengan bau menyengat sudah tercium dari jarak yang jauh, sekitar 20 meter.

Karena bau menyengat itu juga, nelayan lain yang melihat tidak berani mengambil untuk dievaksusi ke darat. ”Sebenarnya banyak nelayan yang melihat, cuma nggak berani ambil. Sudah bau, kondisinya sudah busuk," ujarnya.

Saat nelayan lain tidak ada yang mau membawa, Fadjri bersama anaknya sehati sekata untuk membawa jenazah ke darat. Niatnya lebih kuat membantu membawa jenazah, daripada melanjutkan memancing karena masih mendapat 10 ekor ikan tongkol berikutnya kecill. ”Kasihan saja kalau dibiarin di tengah laut,” ungkapnya.

Saat ditemukan, kondisi jenazah yang mengapung dengan kepala hanya menyisakan daging yang membusuk, bagian perut membesar, kedua tangan dan kaki utuh tanpa jari - jari. Dari ciri-ciri berjenis kelamin laki-laki, mengenakan celana jeans biru, baju batik warna merah, mengunakan jam tangan dan mengenakan sepatu. ”Saku celana belakang seperti ada dompet, tapi tidak bisa saya diambil,” terangnya.

 Jenazah diambil dengan jaring, untuk diangkat ke atas perahu lalu dibungkus dengan mantel plastik dan kain sarung. Meskipun arus yang cukup kuat  dan gelombang tinggi tidak menyurutkan niat membantu.

Padahal, dari lokasi penemuan mayat hingga ke Pantai Pebuahan, sekitar 2 jam perjalanan, karena perahu harus melawan arus kuat ke arah timur hingga tiba di Pantai Pebuahan sekitar pukul 09.00 Wita.

Saat tiba di Pantai Pebuahan, langsung melapor kepada petugas gabungan di Posko Pantai Pebuahan untuk dievakusi. Setelah jenazah dievaksusi, Fadjri dan anaknya pulang membawa hasil tangkapan 10 ekor ikan tongkol untuk dimasak sendiri di rumah. ”Tidak apa pulang tidak bawa banyak ikan. Yang penting bisa menolong orang,” ungkapnya.

Penemuan jenazah di perairan Jembrana ini, merupakan yang kesembilan setelah KMP Tunu Pratama Jaya. Sebanyak delapan jenazah ditemukan dan dievakuasi nelayan asal Banjar Pebuahan ke pesisir Pantai Pebuahan, Desa Banyubiru.

Jenazah yang dibawa nelayan asal Pebuahan ini, kemudian dibawa ke kamar jenazah Rumah Sakit Umum (RSU) Negara untuk identifikasi awal. Kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Blambangan, Banyuwangi untuk identifikasi lebih lanjut. ”Proses identifikasi dipusatkan di Banyuwangi,” Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana I Putu Agus artana Putra.

Operasi pencarian korban KMP Tunu Pratama Jaya, sudah diperpanjang tiga hari dan terakhir, Jumat (11/7/2025). Pihaknya sudah berkoordinasi dengan instansi terkait, agar operasi pencarian diperpanjang lagi. ”Kami akan bersurat untuk perpanjangan operasi pencarian. Disesuaikan dengan kewenangan instansi berwenang,” ungkapnya.

Karena menurutnya, berdasarkan data sementara masih banyak korban belum ditemukan. Karena ada 65 orang yang berada dalam kapal, berdasarkan data dari manifes, terdapat 53 orang penumpang dan 12 anak buah kapal, sedangkan yang ditemukan hingga kemarin 44 orang, dengan rincian 30 orang selamat dan 15 meninggal. ”Salah satunya ada warga Jembrana juga yang belum ditemukan,” ujarnya.

Selain itu, perairan wilayah Jembrana laing banyak ditemukan korban kapal, sehingga memungkinkan untuk melanjutkan atau perpanjangan pencarian korban yang belum ditemukan.

Sementara itu, mengenai temuan korban meninggal, masih proses identifikasi sebanyak 4 jenazah. Jenazah yang teridentifikasi terakhir, Putu Mertayasa, asal Buleleng, yang ditemukan nelayan asal Banjar Pebuahan, Rabu (9/7/2025)) lalu. [*]

 

 

Editor : Hari Puspita
#KMP Tunu Pratama Jaya #selat bali #temuan jenazah #kapal tenggelam #basarnas