NEGARA, Radar Bali.id - Disukai tua, muda, tradisi layangan memang bukan sekadar jenis permainan, tetapi bagi masyarakat Bali merupakan tradisi yang populer.
Bahkan, layang -layang yang makna spiritual dan budaya yang dalam digelar festival setiap hari Minggu. Seperti yang dilakukan Sekaa dari Kebon Sari, Kelurahan Baler Bale Agung, di Sirkuit All in One Pengambengan, Minggu (20/7/2025).
Sebanyak 400 layangan berbagai jenis mengikuti lomba. Pada saat layangan diterbangkan, langit pesisir Pantai Pengambengan, dihiasi dengan layangan yang mengudara selama lomba digelar.
”Setiap seka di Jembrana, mulai mengadakan festival layangan yang dipusatkan di sirkuit ini secara bergantian,” ujar Kepala Bidang Pengembangan Destinasi, Kelembagaan, dan Sumber Daya Manusia I Gede Darmika, usai membuka festival.
Menurutnya, layang-layang menjadi simbol kebahagiaan, terutama bagi anak-anak, dan menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat Bali. Tradisi ini masih hidup dan berkembang, dengan adanya festival layang-layang tahunan.
”Bulan Agustus mendatang akan digelar festival layangan yang diselenggarakan pemkab," jelasnya.
Komunitas layang-layang di Jembrana berperan penting dalam melestarikan tradisi ini, menjaga agar layang-layang tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya Bali.
Pihaknya juga menjadikan tradisi layang -layang ini sebagai salah satu potensi wisata tradisi sehingga tidak hanya menjadi alat permainan dan melestarikan tradisi, tetapi juga daya tarik wisata. [*]
Editor : Hari Puspita