Batas waktu pencarian korban KMP Tunu Pratama Jaya sudah disetop. Tak ada temuan korban lagi di Selat Bali. Upacara khusus bakal digelar untuk korban yang belum ditemukan.
USAI kejadian tenggelamnya Kapal Motor Penumpang ( KMP) Tunu Pratama Jaya, Kecamatan Melaya dan Kelurahan Gilimanuk merencanakan menggelar upacara mecaru dan mulang pakelem di Perairan Selat Bali.
Rencananya, upacara digelar di areal parkir dermaga LCM Pelabuhan Gilimanuk, Jumat (25/7/2025).
Camat Melaya I Putu Gde Oka Santhika mengatakan, upacara yang akan digelar ini sebagai upaya untuk memohon doa untuk keselamatan penyeberangan Selat Bali.
Apalagi baru-baru ini terjadi peristiwa tenggelamnya kapal KMP Tunu Pratama Jaya, sehingga pihaknya menggelar mecaru sekaligus mulang pakelem.
”Pada intinya, tujuan upacara ini pembersihan dan memohon doa agar semua orang yang melintasi Selat Bali ini diberikan keselamatan,” jelasnya.
Menurutnya, upacara mulang pekelem adalah ritual keagamaan Hindu Bali yang dilakukan dengan cara mempersembahkan berbagai benda berharga, seperti hewan, ke laut. Tujuannya, untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, dan kesuburan bagi masyarakat serta alam semesta.
Upacara mulang pakelem di Selat Bali, terakhir dilaksanakan pada tahun 2016 lalu. Tepatnya setelah terjadi kasus tenggelamnya KMP Rafelia II, setelah itu belum pernah dilakukan lagi hingga saat ini.
Pihaknya berharap pengelola Pelabuhan Gilimanuk melakukan kegiatan upacara rutin setiap tahun, sebagai upaya untuk memohon keselamatan penyeberangan di Selat Bali. ”Kalau bisa rutin setiap tahun,” ungkapnya.
Lurah Gilimanuk Ida Bagus Tony Wirahadikusuma mengatakan, pada upacara mulang pakelem akan melarung ke laut sejumlah hewan hidup, seperti kerbau, kambing dan ayam.
”Upacara mencaru dan mulang pakelem ini untuk mendo'akan keselamatan,” terangnya selaku ketua panigia mulang pakelem. [*]
Editor : Hari Puspita