NEGARA, Radar Bali.id - Sejak sebulan terakhir, nelayan Jembrana memilih istirahat melaut di tengah cuaca perairan Selat Bali cukup ekstrem. Hanya sebagian kecil nelayan yang nekat melaut, meskipun dengan hasil sedikit bahkan kadang merugi.
Sejumlah nelayan memilih memperbaiki peralatan penangkapan ikan selama istirahat tidak melaut. Peralatan pancing, jaring dan perahu diperbaiki sehingga pada saat nanti cuaca membaik bisa digunakan lagi.
”Istirahat dulu sambil perbaiki jaring, nunggu cuaca membaik,”ujar Aan salah satu nelayan dari Desa Pengembangan.
Selama sebulan terakhir, nelayan harus teliti melihat cuaca di perairan. Meskipun saat berangkat cuacanya terlihat bersahabat, belum tentu di tengah laut sama. Gelonbang tinggi dan angin kencang berpotensi besar terjadi.
”Kalau nekat melaut percuma dapat sedikit, kadang bisa rugi. Bahkan taruhan nyawa,” ungkapnya.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Jembrana I Made Widanayasa mengatakan, bulan Juli ini memang menjadi bulan paceklik ikan. Karena cuaca buruk, banyak nelayan yang tidak melaut, sehingga produksi ikan dari Jembrana menurun. ”Hanya sebagian kecil nelayan yang melaut. Nelayan yang memang nekat menghadapi cuaca buruk,” ujarnya.
Menurutnya, selama sebulan terakhir, bukan berarti nelayan tidak melaut sama sekali. Namun tidak bisa berangkat melaut setiap hari seperti saat cuaca normal. Selain saat purnama dan tikem nelayan tetap ada yang melaut, tetapi dengan jarak dekat.
Pihaknya sudah menyampaikan kepada para nelayan untuk selalu waspada dan hati-hati ketika melaut di tengah cuaca yang tidak menentu. Apabila memang tetap nekat melaut, harus menyiapkan peralatan keselamatan yang memadai. ”Perhatikan risiko, karena taruhannya nyawa,” ungkapnya. [*]
Editor : Hari Puspita