NEGARA, Radar Bali.id – Akhirnya setelah sebelumnya sempat krodit, pelabuhan penyeberangan Selat Bali, sempat mengalami keterbatasan armada kapal yang beroperasi.
Dampaknya, antrean panjang kendaraan terjadi, terutama di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, yang akan masuk Bali. Kemacetan kendaraan mencapai puluhan kilometer. Kemacetan ini terjadi, selain akibat dari kapal yang beroperasi tidak maksimal, juga penutupan jalan nasional Gunung Kumitir, Jember.
Salah satu sopir yang terjebak kemacet, menyebut ”kemacetan horor” masuk Bali di Pelabuhan Ketapang. Karena jarak kemacetan hingga puluhan kilometer, berlangsung hingga beberapa hari.
”Saya terjebak kemacetan 12 jam lebih, hampir sehari semalam,” kata Suryanto, salah satu sopir asal Banyuwangi yang sempat terjebak kemacetan Jumat (25/7/2025) lalu, ditemui di Pelabuhan Gilimanuk, Minggu (27/7/2025).
Kendaraan yang terjebak kemacetan, di dominasi kendaraan angkutan barang dan mobil pribadi yang akan menuju Pelabuhan Ketapang. Setelah beberapa hari terjadj kemacetan, akhirnya lalu lintas kendaraan yang akan ke Bali mulai lancar. ”Sudah tidak ada kemacetan panjang lagi,” kata sopir truk yang baru menyeberang dari Pelabuhan Ketapang.
Sementara itu, Pelabuhan Gilimanuk terpantau landai. Tidak ada antrean kendaraan panjang seperti yang terjadi di Pelabuhan Ketapang. Setiap kendaraan yang akan menyeberang menuju Pelabuhan Ketapang hanya antre di pintu masuk dermaga, tanpa menunggu lama.
Komandan Pos Angkatan Laut (Danposal) Gilimanuk Letda Laut (P) Bayu Primanto mengatakan, saat ini penyeberangan Pelabuhan Ketapang Gilimanuk mulai berangsur normal. ”Tidak ada antrean atau kemacetan di Pelabuhan. Sudah berangsur normal,” ujarnya.
Menurutnya, kemacetan yang terjadi Pelabuhan Ketapang, akibat dari pengurangan jumlah kalal yang beroperasi. Namun saat ini, kapal yang beroperasi sudah mulai berangsur normal. ”Pelabuhan Ketapang juga sudah normal,” ungkapnya.
Menurut informasi yang dihimpun koran ini, kapal yang beroperasi sebanyak 26 unit. Sedangkan jumat normal yang beroperasi sebanyak 28 unit. Jumlah ini jauh lebih banyak dari sepekan sebelumnya, saat ada pengurangan 15 unit kapal untuk perbaikan. [*]
Editor : Hari Puspita