Di antara deru jalanan Amlapura, sebuah tradisi unik nan meriah menjadi magnet yang memukau. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Banjar Dinas Kecicang Islam, Karangasem. Ini bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan kreasi tarian budaya yang memancarkan kerukunan.
SUASANA tampak begitu semarak. Ribuan warga tumpah ruah di jalanan, bersemangat mengarak sejumlah male, miniatur masjid yang dihias penuh warna.
Suasana riuh rendah diiringi dentuman tarian Rudat, kesenian khas yang telah melekat pada perayaan Maulid di kampung ini. "Sangat meriah. Perayaan ini menjadi momen sakral yang selalu kami nantikan," ujar Ketua Panitia Maulid, Achmad Fauzi Sandhi.
Puncak perayaan yang jatuh pada Minggu (7/9/2025) lalu, merupakan kulminasi dari serangkaian acara yang telah berlangsung selama dua minggu. Mulai dari berbagai lomba, kirab budaya yang berlanjut hingga ke jalan veteran Amlapura, hingga pengajian yang dihadiri penceramah dari Jawa Timur.
Namun, yang paling istimewa adalah tradisi menekan (menaikan) yang digelar keesokan harinya. "Masyarakat membawa aneka makanan dan buah-buahan ke Masjid Baiturrahim sebagai wujud syukur," jelas Fauzi.
Menurut Azanuddin, Ketua Takmir Masjid Baiturrahim, Maulid Nabi di Kecicang Islam adalah wadah untuk menampilkan kekayaan budaya lokal. "Semua tradisi, dari Rudat, hias male, sampai menekan, kami lakukan," katanya.
Yang tak kalah penting, perayaan ini menjadi bukti nyata kokohnya kerukunan antarumat beragama di Karangasem. Para tamu undangan datang dari berbagai latar belakang agama, termasuk tokoh-tokoh Forkopimda. "Ini bukti bahwa hubungan antarumat beragama di Karangasem terjalin rukun dan sudah berlangsung lama," tambah Azanuddin.
Melalui perayaan ini, pesan perdamaian dan teladan Nabi Muhammad SAW yang menghargai perbedaan disuarakan. "Bagaimana beliau sangat menghargai perbedaan, menyebarkan rahmat dan kedamaian. Artinya, kita harus saling menghargai dan mengedepankan moderasi beragama," pungkasnya.[*]
Editor : Hari Puspita