JEMBRANA, Radar Bali.id - Bencana banjir yang melanda Kabupaten Jembrana pada Rabu (10/9/2025) lalu, akibat hujan deras selama dua hari berturut-turut, diperkirakan telah menimbulkan kerugian senilai lebih dari Rp44 miliar.
Data tersebut disampaikan oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana, I Putu Agus Artana Putra, pada Minggu (14/9/2025). Angka kerugian tersebut mencakup seluruh dampak kerusakan, mulai dari infrastruktur publik hingga kerugian yang dialami masyarakat.
"Total kerugiannya mencapai Rp44 miliar lebih," ujar Agus.
Kerugian terbesar disebabkan oleh banyaknya rumah warga yang terdampak. Menurut Agus, lebih dari 6.000 rumah mengalami kerusakan, mulai dari ringan hingga berat. Selain itu, kerugian juga terjadi di sektor pertanian dan peternakan.
Mengingat nilai kerugian yang sangat besar, anggaran Bantuan Tidak Terduga (BTT) yang dimiliki Pemkab Jembrana dinilai tidak akan mencukupi untuk pemulihan. Oleh karena itu, BPBD Jembrana akan segera mengajukan bantuan kepada BPBD Provinsi Bali.
"Nanti beberapa kita bantu dengan BTT, sisanya akan kita usulkan ke Provinsi," jelas Agus.
Warga Masih Berjibaku Hadapi Genangan Air
Sementara itu, upaya pemulihan di lapangan masih terus dilakukan. Di Desa Pengambengan, warga masih harus berjibaku dengan genangan air yang belum surut sepenuhnya.
Perbekel Desa Pengambengan, Kamaruzzaman, menyatakan bahwa penyedotan air masih terus dilakukan oleh pemerintah desa dan warga. "Masih belum surut total, sebagian rumah masih terendam genangan air," katanya.
Diperkirakan, genangan air di pemukiman warga seperti di Banjar Munduk dan Banjar Ketapang Muara akan surut dalam satu hingga tiga hari ke depan, dengan catatan tidak ada hujan susulan.
Pada hari pertama banjir, sekitar 3.500 dari total 4.500 rumah warga di Desa Pengambengan sempat terendam. "Setiap hari kami usahakan menyedot genangan air agar tidak menimbulkan masalah baru," tutup Kamaruzzaman.[*]
Editor : Hari Puspita