JEMBRANA, RadarBali.id - Hujan deras yang mengguyur Jembrana pada Rabu (10/9/2025) pekan lalu mengakibatkan banjir yang merendam setidaknya 301,3 hektare lahan sawah. Hingga kini, dampak pasti terhadap hasil panen, termasuk potensi puso (gagal panen), masih didata secara menyeluruh oleh petugas terkait.
Kepala Bidang Pertanian Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Komang Ngurah Arya Kusuma, menjelaskan bahwa data terbaru per Sabtu sore menunjukkan luasan lahan yang terdampak terus bertambah. Wilayah terparah berada di Kecamatan Jembrana seluas 114 hektare, diikuti Negara 95,5 hektare, Melaya 70 hektare, dan Mendoyo 10 hektare.
“Sementara di Kecamatan Pekutatan nihil, tidak ada yang terdampak,” tambahnya.
Menurut Komang, penentuan gagal panen masih menunggu pendataan ulang dan evaluasi. Hal ini dikarenakan usia tanam padi yang terdampak beragam, mulai dari yang baru ditanam hingga yang hampir panen. Sawah yang terendam lebih dari tiga hari berpotensi besar mengalami gagal panen.
Selain terendam air, sejumlah lahan pertanian juga tertutup material banjir seperti batu, tanah, sampah, dan pohon tumbang. Kondisi ini terlihat di beberapa area pinggir Jalan Denpasar-Gilimanuk, seperti di Desa Baluk dan Desa Banyubiru, di mana sawah tertutup material batu dari pondasi penahan tanah.
Komang menambahkan, petani yang sawahnya tertutup material bisa menanam kembali setelah material dibersihkan, namun jika dibiarkan akan dipastikan rusak dan gagal panen.
Selain lahan sawah, sejumlah infrastruktur pertanian juga rusak. Komang menyebutkan, beberapa saluran irigasi primer dan sekunder juga rusak sehingga berpotensi menyebabkan kekeringan di masa mendatang. Sejumlah pompa air di sumur bor juga tidak luput dari kerusakan akibat terendam banjir.
“Kami akan terus memantau, baik yang terdampak langsung maupun yang berpotensi terdampak tidak langsung,” tutupnya.[*]
Editor : Hari Puspita