NEGARA, RadarBali.id – Masalah pendangkalan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan semakin parah dan mengganggu aktivitas nelayan. Puncaknya, pada Kamis (25/9/2025), satu unit perahu selerek bernama "Sampurna" kandas di pintu kolam labuh karena "tersangkut" pasir saat air laut surut.
Perahu tersebut sempat berupaya lepas dari pasir dengan menarik gas mesin hingga mengeluarkan asap tebal, menunjukkan kesulitan yang dialami.
Kondisi ini membuktikan bahwa pendangkalan di kolam labuh, terutama di pintu masuk antara dua pemecah ombak, sudah sangat mengkhawatirkan.
Nelayan Rugi, Ikan Cepat Turun Kualitas
Pendangkalan membuat akses perahu besar sulit. Sebagian besar perahu selerek dengan kapasitas di atas 10 GT terpaksa parkir di tengah laut di sisi barat kolam labuh. Aktivitas bongkar muat dan persiapan melaut pun harus menggunakan perahu kecil.
"Karena pendangkalan ini, pintu masuk kolam labuh sempit. Bahaya bagi perahu nelayan yang kecil," keluh Nengah Suwenia, salah seorang nelayan.
Perahu yang pulang melaut tidak bisa menunggu air pasang untuk masuk. Hal ini berakibat fatal karena kualitas ikan hasil tangkapan cepat menurun dan terpaksa dijual dengan harga murah. Masalah pendangkalan ini sudah lama dikeluhkan nelayan karena mengganggu mata pencaharian mereka, terutama saat air laut surut.
Sempat Ancam Demo, Pengerukan Belum Maksimal
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jembrana, I Made Widanayasa, mengakui bahwa para nelayan sempat berencana melakukan aksi demonstrasi menuntut pengerukan kolam labuh oleh pihak PPN Pengambengan. Rencana tersebut batal setelah dilakukan mediasi, di mana nelayan bahkan ikut membantu proses pengerukan sedimen.
Pihak PPN Pengambengan memang sudah berupaya melakukan pengerukan pada Agustus lalu. Namun, Widanayasa mengakui pengerukan tersebut belum maksimal.
"Pendangkalan cepat sekali terjadi karena arus yang membawa pasir ke dalam kolam labuh," terangnya, seraya menyebut bahwa minimnya peralatan dan tingginya sedimentasi menjadi kendala.
Keterbatasan Anggaran dan Solusi Jangka Panjang
Lukman Hadi, Kepala Sub Bagian Umum PPN Pengambengan, membenarkan bahwa kondisi kolam labuh terkendala sedimentasi yang parah. Ia menyebutkan bahwa pengerukan sudah dilakukan dengan anggaran terbatas.
"Bulan Agustus kita sudah berupaya semaksimal mungkin dengan keterbatasan anggaran karena efisiensi tahun ini," ungkap Lukman.
Untuk mengatasi hal tersebut, PPN Pengambengan berkoordinasi dengan nelayan untuk fokus mengeruk di titik-titik tertentu agar aktivitas perahu tetap berjalan.
Sebagai solusi jangka panjang, PPN Pengambengan telah mengusulkan pengadaan alat berat berupa ampibi excavator kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). "Mudah-mudahan di tahun ini bisa terealisasi," harapnya. Selain itu, pengerukan skala besar juga direncanakan masuk dalam proyek pengembangan PPN Pengambengan berikutnya. [*]
Editor : Hari Puspita