JEMBRANA, Radar Bali.id – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Peh di Jembrana menghadapi tantangan serius. Setiap harinya, TPA ini menampung sekitar 87 ton sampah, dengan volume terbanyak didominasi oleh sampah organik dari rumah tangga.
Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan lahan aktif serta kerusakan pada alat berat yang vital untuk pengelolaan sampah.
Manajer Operasional Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Peh, I Made Suarnayasa, mengungkapkan bahwa volume sampah yang masuk berasal dari dua sumber utama:
- Sampah pelanggan (sekitar 7.920 pelanggan) yang diangkut oleh 26 unit motor roda tiga, menyumbang rata-rata 27 ton per hari.
- Sampah dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) pasar dan kelolaan Dinas Lingkungan Hidup yang diangkut truk, menyumbang sekitar 60 ton per hari.
Mayoritas Sampah Organik
Suarnayasa menyoroti bahwa sekitar 70 persen dari total sampah rumah tangga yang masuk, baik dari motor roda tiga maupun truk, adalah sampah organik.
"Artinya, pemilahan sampah berbasis sumber masih belum maksimal dilakukan sendiri oleh masyarakat," ujar Suarnayasa. Ia menekankan bahwa jika sampah sudah dipilah dari sumbernya, maka yang terbuang ke TPA hanyalah residu.
Upaya pemerintah kabupaten melalui Teba Modern sedikit membantu mengurangi beban. Inovasi ini berhasil mengolah sampah organik menjadi kompos, mengurangi sampah yang dibuang ke TPA sebanyak 5 ton, dari semula 27 ton menjadi sekitar 22 ton per hari (khusus yang diangkut motor roda tiga).
Lahan Sempit dan Alat Berat Rusak
Di sisi lain, kondisi fisik TPA Peh sendiri tidak mampu mengelola volume sampah yang masif. Dari total luas lahan sekitar 2 hektare, area aktif untuk pembuangan sampah hanya tersisa sekitar 77 are.
Keterbatasan lahan ini diperparah dengan kondisi sarana prasarana yang tidak memadai. Dari dua unit alat berat (eskavator/buldozer) yang seharusnya digunakan untuk mengatur dan menata tumpukan sampah, hanya satu yang dapat dioperasikan secara optimal.
"Alat berat sering rusak karena kondisi yang sudah tua, sehingga sering membuat sampah tidak tertata maksimal dan menggunung," jelas Suarnayasa.
Pentingnya Peran Masyarakat dan TPS3R
Suarnayasa menegaskan bahwa penanganan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Penyadaran masyarakat memiliki peranan krusial, terutama dalam memilah sampah rumah tangga sesuai jenisnya (organik dan non-organik) dari sumber.
Pihak TPST Peh juga berharap agar setiap desa dan kelurahan di Jembrana didukung untuk mendirikan dan mengelola TPS3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle). Dengan demikian, sampah yang harus dibuang ke TPA bisa diminimalisir hingga hanya tersisa residunya saja.[*]
Editor : Hari Puspita