JEMBRANA, Radar Bali.id – Sejumlah lokasi di Kabupaten Jembrana yang dilanda longsor akibat hujan dan banjir pada September lalu, kini menghadapi ancaman serius longsor susulan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana mendesak penanganan segera, menyusul hasil asesmen yang menunjukkan beberapa titik berada dalam kondisi kritis.
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jembrana, I Made Sapta Budiarta, menyatakan bahwa asesmen tengah dikebut untuk memetakan dampak bencana dan mempercepat pengajuan bantuan rehabilitasi.
"Asesmen ini dilakukan sebagai langkah awal dalam penanganan dan pengajuan bantuan rehabilitasi," jelas Sapta Budiarta, menegaskan bahwa penanganan darurat menjadi kunci untuk mencegah bencana yang lebih besar.
Dua Titik Longsor Paling Kritis Ditemukan
Dari hasil asesmen, BPBD Jembrana menyoroti dua lokasi yang memerlukan penanganan prioritas:
- Longsor Bahu Jalan di Pohsanten: Di Banjar Dangin Pangkung Jangu, Desa Pohsanten, kerusakan pada senderan bahu jalan dilaporkan cukup parah. Kondisi ini berpotensi longsor kembali jika tidak segera diperbaiki, mengancam akses dan keselamatan pengguna jalan.
- Ancaman Meluas di Kelurahan Pendem: Longsor senderan sungai di Lingkungan Satria, Kelurahan Pendem—tepatnya di ujung gang sebelah utara Pura Taman Beji—menjadi kasus paling mendesak. Longsoran ini membentang sepanjang 20 meter dengan ketinggian 10 meter.
"Kejadian ini juga menyebabkan satu rumah warga tidak memiliki akses keluar masuk, sehingga menjadi prioritas penanganan darurat," terang Sapta Budiarta. Longsor ini berpotensi meluas dan membutuhkan penanganan khusus berupa pembangunan senderan permanen.
BPBD Jembrana saat ini telah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan percepatan penanganan dan penyaluran bantuan kepada warga yang terdampak bencana. Upaya ini diharapkan dapat meminimalisir risiko longsor susulan yang mengancam Jembrana selama musim hujan ke depan.[*]
Editor : Hari Puspita