Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kasus Rabies di Jembrana Turun Drastis, Capai 49 Persen HPR Telah Divaksin, tapi Masih Ada Warga yang Menolak, Ini Alasannya

Muhammad Basir • Rabu, 15 Oktober 2025 | 15:10 WIB
DISUNTIK VAKSIN: Vaksinasi rabies di Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo. (foto: BPBD Jembrana)
DISUNTIK VAKSIN: Vaksinasi rabies di Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo. (foto: BPBD Jembrana)

 

NEGARA, RadarBali.id – Upaya masif Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana dalam menekan kasus rabies mulai membuahkan hasil.

Tingkat kasus positif rabies di Jembrana dilaporkan menurun drastis, seiring dengan capaian vaksinasi hewan penular rabies (HPR) yang sudah mencapai 49 persen dari total estimasi populasi.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, mengatakan penurunan kasus terlihat signifikan.

"Sebelum vaksinasi gencar dilakukan, kasus positif rabies rata-rata bisa mencapai 10 kasus setiap bulan dari total 99 kasus. Namun, di bulan Oktober ini, kami hanya mencatat satu kasus positif rabies," tegas Sugiarta, Selasa (14/10/2025).

Target 80 Persen Populasi Divaksin Desember Mendatang

Sugiarta menjelaskan, dari total estimasi populasi HPR sebanyak 36 ribu ekor, pihaknya telah berhasil memvaksinasi 49 persen populasi hingga kemarin.

Vaksinasi dilakukan secara bertahap, dimulai dari kecamatan paling timur Jembrana, dengan target ambisius untuk mencapai 80 persen populasi tervaksin pada Desember mendatang.

Pemerintah daerah kini bahkan telah membentuk Tim Penanggulangan Rabies yang dikoordinasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mempercepat proses vaksinasi dan upaya kontrol populasi HPR.

Tantangan di Lapangan: Penolakan Warga karena Khawatir Hewan Mati

Meskipun progres vaksinasi menunjukkan angka positif, Sugiarta tidak menampik adanya tantangan di lapangan berupa penolakan dari sebagian kecil warga untuk menyerahkan HPR mereka divaksin.

Penolakan ini dipicu oleh kekhawatiran pemilik bahwa hewan peliharaan mereka akan mati setelah menerima vaksin.

"Setiap vaksinasi dilakukan, ada saja warga yang menolak menyerahkan HPR-nya divaksin. Anggapan mereka, setelah divaksin, HPR akan mati. Padahal, vaksinasi justru untuk mencegah penyebaran rabies yang membahayakan baik bagi hewan maupun pemiliknya," jelas Sugiarta.

Ia mencontohkan, saat vaksinasi di Desa Yehembang pada Senin (13/10) lalu, masih ditemukan penolakan. Namun, ia menekankan bahwa jumlah warga yang menolak kini jauh lebih sedikit dibanding beberapa tahun lalu.

Untuk mengatasi penolakan tersebut, petugas melakukan pendekatan komunikasi yang humanis dan memberikan edukasi intensif mengenai manfaat dan bahaya rabies.

Berdasarkan data BPBD Jembrana, di Desa Yehembang saja, sebanyak 384 ekor HPR berhasil divaksin, terdiri dari 347 ekor anjing dan 37 ekor kucing. Hingga saat ini, vaksinasi masih terus berlangsung, terutama di desa-desa yang termasuk zona merah rabies.[*]

Editor : Hari Puspita
#vaksinasi #jembrana #rabies #vaksinasi antirabies