JEMBRANA, Radar Bali.id – Upaya puluhan nelayan korban banjir di Jembrana untuk mendapatkan santunan penguatan ekonomi pasca-bencana September lalu terganjal kelengkapan berkas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana memberikan tenggat waktu hingga hari ini, Selasa (21/10/2025).
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jembrana I Made Sapta Budiarta mengatakan, pihaknya menerima sebanyak 52 proposal santunan penguatan ekonomi karena menjadi korban banjir September lalu.
Proposal dari nelayan yang terdampak karena perahunya rusak dan beberapa perlengkapan hilang. ”Kami sudah melaksanakan pengecekan lapangan sebagai tindak lanjut dari verifikasi proposal bantuan perahu nelayan yang mengalami kerusakan,” jelasnya.
Sebanyak 52 proposal tersebut sebagian besar berasal nelayan Desa Air Kuning, sebagian lagi dari Desa Banyubiru. Namun untuk sementara ini dari hasil verifikasi di lapangan, terdapat 13 proposal yang memenuhi syarat pengajuan. ”Masih banyak yang belum memenuhi syarat, karena belum ada rekening,” terangnya.
Pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah desa, agar syarat permohonan segera dipenuhi. Karena pihaknya akan segera menyerahkan permohonan kepada BPBD Provinsi Bali agar bisa segera direalisasikan. ”Karena sudah mendekati akhir tahun, kami sudah minta agar secepatnya syarat dipenuhi,” tegasnya.
Pihaknya melakukan verifikasi untuk memastikan seluruh data dan dokumen yang diajukan oleh masyarakat terdampak bencana sesuai dengan ketentuan. Serta penyaluran bantuan dapat dilakukan secara tepat sasaran dan transparan. ”Nantinya setelah diajukan, provinsi akan melakukan verifikasi lagi,” tegasnya.
Permohonan santunan penguatan ekonomi dari korban terdampak bencana ini, yang akan diberikan maksimal sebesar Rp 5 juta. Berdasarkan proposal yang diterima, permohonan sebagian besar di bawah Rp 5 juta, karena kerusakan atau kerugian yang dialami berbeda - beda.
Sapta menjelaskan, banjir yang terjadi pada bulan September lalu, perahu nelayan terdampak bukan karena berada di tengah laut. Perahu yang rusak dan beberapa peralatan hilang karena terbawa banjir dari darat. ”Karena banjir cukup besar, banyak perahu yang benturan dan peralatan yang hilang,” terangnya. [*]
Editor : Hari Puspita