NEGARA, RadarBali.id – Kesiapan tim pemadam kebakaran (Damkar) Jembrana untuk merespons darurat kebakaran kini berada di titik terendah.
Tiga unit aset vital, termasuk dua mobil penembak api, kini hanya terparkir sebagai besi tua di areal pengujian kendaraan bermotor Desa Kaliakah setelah rusak total dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Akibat kerusakan ini, Damkar Jembrana kini hanya mengandalkan lima unit armada aktif, yang terdiri dari dua unit penembak dan tiga unit tanker penyuplai air. Ironisnya, satu unit penembak sedang dalam perbaikan, sehingga hanya dua unit mobil penembak yang benar-benar siap melayani lima kecamatan.
Kade Bagus Darmawan, Kepala Seksi Pemadam dan Penyelamatan Satpol PP Jembrana, mengakui bahwa jumlah ini jauh dari kata ideal.
"Minimal untuk Jembrana dibutuhkan enam unit armada. Empat di pusat, dan masing-masing satu di Pos Damkar di Kecamatan Melaya dan Pekutatan," kata Darmawan.
Ancaman di Wilayah Jauh
Kekurangan armada ini menimbulkan risiko besar, terutama bagi wilayah yang jauh dari kantor pusat seperti Kecamatan Pekutatan. Darmawan menyebutkan, dahulu pos di dua kecamatan tersebut pernah dilengkapi armada, namun semua ditarik karena rusak.
"Pos Damkar di kecamatan yang jauh seperti Pekutatan itu sangat perlu. Jarak yang jauh membuat waktu tempuh dari kantor pusat menjadi lama, padahal penanganan awal saat kebakaran sangat menentukan," tegasnya.
Pihak Damkar berharap segera ada penambahan armada yang proporsional untuk mengganti tiga unit yang telah rusak, demi menjamin penanganan kebakaran dapat dilakukan cepat dan optimal di seluruh wilayah Jembrana. [*]
Editor : Hari Puspita