NEGARA, RadarBali.id – Situasi penyebaran rabies di Jembrana memasuki fase mengkhawatirkan. Dalam kurun waktu Januari hingga Oktober tahun ini, tercatat sebanyak 106 kasus positif rabies, jumlah ini dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan total kasus sepanjang tahun 2024 yang hanya 54 kasus.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, membenarkan lonjakan drastis ini berdasarkan hasil uji laboratorium veteriner Denpasar.
"Kasus positif tahun ini, dua kali lebih banyak dari tahun lalu," ujar Sugiarta, Kamis (6/11/2025). Tingginya kasus positif ini menandakan penyebaran virus rabies di Jembrana semakin intens.
Capaian Vaksinasi Masih Jauh dari Target
Untuk menekan penyebaran, upaya pencegahan utama melalui vaksinasi Hewan Penular Rabies (HPR) dan kontrol populasi terus digencarkan, terutama di desa-desa yang ditetapkan sebagai zona merah.
Capaian vaksinasi hingga 5 November 2025
- Target Populasi HPR Estimasi: 39.446 ekor.
- Realisasi Vaksinasi: 24.821 ekor.
- Persentase Capaian: Hanya sekitar 58 persen.
Sugiarta mengakui bahwa data estimasi populasi HPR perlu ditinjau ulang karena dianggap belum sesuai dengan hasil vaksinasi di lapangan. Pihaknya menargetkan capaian vaksinasi bisa mencapai 85 persen dari estimasi populasi pada Desember mendatang.
"Dengan tingginya capaian vaksinasi, kami berharap bisa mengurangi kasus positif rabies di Jembrana secara signifikan," tegasnya.
Eliminasi Anjing Liar Dilakukan Selektif
Selain vaksinasi, beberapa pemerintah desa juga mengajukan permintaan untuk dilakukan eliminasi terhadap anjing liar di wilayah mereka.
Meskipun memprioritaskan vaksinasi dan kontrol populasi, Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana menyatakan siap merespons permintaan eliminasi.
"Kami mengutamakan vaksinasi dan kontrol populasi. Tetapi apabila ada desa yang meminta untuk eliminasi akan dilakukan dengan selektif," tutup Sugiarta.[*]
Editor : Hari Puspita