Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Bali Diguncang Gempa 55 Kali dalam Sepekan, Stasiun Geofisika BMKG Denpasar Periksa Intensity Meter di Jembrana

Dhian Harnia Patrawati • Selasa, 18 November 2025 | 16:11 WIB

INSPEKSI RUTIN - Petugas BMKG melakukan pemeriksaan alat intensity meter di Jembrana.
INSPEKSI RUTIN - Petugas BMKG melakukan pemeriksaan alat intensity meter di Jembrana.

RADAR BALI - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Denpasar melakukan inspeksi dan pemeliharaan rutin intensity meter yang ditempatkan di Jembrana.

Aktivitas tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh infrastruktur pemantauan gempa selalu bekerja pada kondisi optimal dan mampu menghasilkan data yang akurat.

Akurasi data ini menjadi kunci utama dalam mendukung Sistem Peringatan Dini Gempabumi dan Tsunami di Indonesia.

Tim teknis BMKG melaksanakan pemeriksaan yang sangat menyeluruh terhadap kondisi perangkat yang meliputi pengecekan detil pada sensor, sistem kelistrikan, catu daya, hingga jaringan komunikasi data.

Langkah ini krusial untuk memastikan alat dapat mengirimkan data secara real-time ke pusat data BMKG tanpa hambatan.

Kepala Stasiun Geofisika Denpasar Rully Oktavia Hermawan mengatakan, pemeliharaan yang dilakukan secara berkala tersebut sangat vital agar peralatan mampu merekam tingkat guncangan gempa secara akurat, menjaga kualitas data, dan siap siaga setiap saat.

Menurutnya, sistem pemantauan gempa di Bali harus tetap andal dan siap sedia mendukung pengambilan keputusan kebencanaan di daerah.

Hal ini semakin ditekankan mengingat dinamika aktivitas seismik di Bali dan sekitarnya yang cukup aktif.

Pada periode 7 hingga 13 November 2025, BMKG mencatat adanya 55 kejadian gempa bumi yang terjadi di Bali dan wilayah sekitarnya.

Mayoritas kejadian tersebut didominasi oleh gempa dengan magnitudo kurang dari M3 dan memiliki kedalaman dangkal, yaitu kurang dari 60 kilometer.

Selain fokus pada aspek teknis, tim BMKG juga melaksanakan koordinasi strategis dengan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jembrana.

Koordinasi dengan BPBD adalah langkah yang sangat strategis karena data intensitas gempa yang akurat menjadi alat bantu utama dalam menentukan luasan assessment awal yang dilakukan oleh BPBD pada saat dan setelah terjadinya gempa bumi.

Peran Krusial Intensity Meter

Intensity Meter adalah perangkat vital yang digunakan BMKG untuk mengukur tingkat kekuatan guncangan gempa bumi yang dirasakan di permukaan tanah.

Perangkat ini berbeda dengan seismograf yang merekam gelombang gempa karena Intensity Meter secara spesifik merekam percepatan tanah (ground acceleration).

Data akan diolah untuk menentukan skala intensitas guncangan, yaitu Modified Mercalli Intensity (MMI).

Secara total, Bali saat ini memiliki 63 unit Intensity Meter yang tersebar luas. Mayoritas berada di daerah Buleleng yang memiliki rekam jejak gempa dan tsunami lebih tinggi dibandingkan daerah lain di Bali.

Keberadaan dan fungsi alat ini sangat penting karena data yang dihasilkan digunakan untuk menentukan tingkat guncangan di suatu wilayah secara cepat.

Selain itu untuk membuat peta sebaran intensitas gempabumi, menilai potensi dampak atau kerusakan, serta mendukung sistem peringatan dini dan analisis pasca-gempa.

Mengenal Skala MMI: Mengukur Dampak Guncangan

Secara teknis, Intensity Meter mendeteksi tingkat guncangan gempa berdasarkan skala MMI, dari I hingga XII.

Skala ini dikategorikan berdasarkan warna yang muncul pada digitizer alat dan tingkat dampaknya di lapangan.

Ketika pada digitizer muncul warna putih, ini menandakan skala I hingga II MMI, yang berarti getaran tidak dirasakan atau hanya dirasakan oleh beberapa orang, tetapi sudah terekam oleh alat.

Jika alat menunjukkan warna hijau, artinya guncangan berada pada skala III hingga V MMI.

Pada level ini, getaran gempa dirasakan oleh banyak orang, namun umumnya belum menimbulkan kerusakan; benda ringan yang digantung mulai bergoyang dan jendela kaca bergetar.

Kenaikan intensitas ditunjukkan dengan warna kuning (VI MMI), di mana bagian non-struktur bangunan mulai mengalami kerusakan ringan, seperti munculnya retak rambut pada dinding, dan genteng bergeser atau berjatuhan sebagian.

Skala yang lebih tinggi ditandai dengan warna jingga, yaitu VII hingga VIII MMI.

Getaran gempa pada tingkat ini menyebabkan banyak retakan terjadi pada dinding bangunan sederhana, sebagian bahkan roboh, kaca pecah, dan plester dinding lepas.

Struktur bangunan mulai mengalami kerusakan ringan sampai sedang. Puncak kerusakan ditunjukkan oleh warna merah pada alat, yang menandakan skala IX hingga XII MMI.

Getaran gempa pada skala ini sangat kuat hingga menyebabkan sebagian besar dinding bangunan permanen roboh, struktur bangunan mengalami kerusakan berat, rel kereta api melengkung, dan pada level tertinggi dapat menghancurkan bangunan sama sekali.

Melalui kegiatan inspeksi dan pemeliharaan alat, BMKG Stasiun Geofisika Denpasar terus memperkuat perannya dalam menjaga kesiapsiagaan, keselamatan, dan ketangguhan masyarakat Bali dari ancaman gempa bumi dan tsunami.

Upaya koordinasi dengan BPBD di level provinsi dan kabupaten/kota juga terus dilakukan secarta maksimal untuk meminimalisir jumlah korban saat bencana terjadi.***

Editor : Ibnu Yunianto
#denpasar #BMKG 2025 #bmkg #stasiun geofisika #jembrana #gempa bumi