Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Nampah Kebo: Tradisi Unik Desa Adat Asahduren Jembrana, karena Pesan Leluhur Melarang Memotong Babi

Muhammad Basir • Kamis, 20 November 2025 | 18:40 WIB
UNIK : Warga Tengah menyiapkan  nampah kerbau Desa Adat Asahduren, Jembrana, menjelang Galungan. (Foto dok. I Kade Suentra untuk Radar Bali)
UNIK : Warga Tengah menyiapkan nampah kerbau Desa Adat Asahduren, Jembrana, menjelang Galungan. (Foto dok. I Kade Suentra untuk Radar Bali)

 

Bukan tanpa sebab, tradisi ini muncul di Desa Adat Asahduren, Jembrana. Ternyata memang ada aturan dari leluhur agar jangan menyembelih babi di hari raya Galungan dan Kuningan.

SETIAP enam bulan sekali, menjelang perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan, aroma khas olahan daging biasanya menyeruak dari setiap rumah tangga di Bali.

Umumnya, warga nampah (memotong) babi sebagai sarana upacara dan konsumsi. Namun, pemandangan berbeda tersaji di Desa Adat Asahduren, Kecamatan Pekutatan, Jembrana. Bukannya memotong babi, mereka memotong kebo alias kerbau. Seperti yang ada di Tabanan dan sebagian wilayah Badung juga punya  tradisi ini.

Di desa ini, tradisi yang dipegang teguh adalah nampah kebo (memotong kerbau). Sebuah tradisi warisan leluhur yang hingga kini masih dipertahankan, menjadikan desa ini unik di tengah mayoritas desa adat di Jembrana.

Ada Larangan Tegas

Menurut Bendesa Adat Asahduren, I Kade Suentra, tradisi ini bukanlah kebetulan. Ia berujar, pemotongan kerbau ini bermula dari larangan tegas di Pura Penataran Luhur hingga Pura Kawitan Desa.

“Tradisi ini sudah turun temurun. Dahulu, ada penuturan penyungsungan desa kami tidak memperbolehkan memotong babi untuk sarana upacara, khususnya saat Galungan dan Kuningan,” ungkap Suentra, Rabu (19/11/2025).

Karena adanya pantangan sakral tersebut, para leluhur kemudian berembug dan bersepakat untuk menentukan alternatif pengganti babi, dan pilihan pun jatuh pada kerbau. Sejak saat itu, tradisi nampah kebo ini menjadi identitas spiritual warga Desa Adat Asahduren.

Semangat Patungan Lintas Batas

Meskipun membutuhkan biaya yang tidak sedikit, tradisi ini tetap berjalan lancar berkat semangat gotong royong dan patungan (urunan) antarwarga.

Menjelang Galungan kali ini, Suentra menyebutkan bahwa total tiga ekor kerbau dipotong dari dua kelompok berbeda pada Minggu (16/11/2025) lalu.

Nah, yang menarik, anggota kelompok yang urunan membeli kerbau tidak hanya berasal dari internal Desa Adat Asahduren.

“Anggota patungan kami juga diikuti oleh beberapa orang dari desa tetangga, bahkan ada yang dari Kecamatan Seririt, Buleleng,” jelasnya, menunjukkan bahwa tradisi ini telah membangun ikatan kekerabatan lintas batas.

Sebagai salah satu pusat kegiatan, rumah bendesa adat menjadi lokasi pemotongan dua ekor kerbau.

Daging yang telah dipotong kemudian didistribusikan kepada sekitar 150 Kepala Keluarga (KK) yang menjadi anggota kelompok urunan.

Tradisi ini tidak berhenti setelah Galungan. “Setelah Galungan ini, kelompok sudah urunan lagi untuk Galungan berikutnya,” tutup Suentra, menegaskan komitmen mereka untuk melestarikan nampah kebo sebagai penanda Hari Raya yang penuh makna dan keberagaman.[*]

 

Editor : Hari Puspita
#galungan #tradisi #jembrana #nampah kebo