Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Sudah Bertahun-tahun 15 KK di Pendem Keluhkan Jembatan Bambu Berisiko Tinggi, Eh, Sekarang Malah Efisiensi

Muhammad Basir • Kamis, 4 Desember 2025 | 23:05 WIB
AKSES UTAMA : Sejumlah siswa  melintasi jembatan bambu, sebagai akses utama dan tercepat untuk beraktivitas. (foto: dok.Gede Dika)
AKSES UTAMA : Sejumlah siswa melintasi jembatan bambu, sebagai akses utama dan tercepat untuk beraktivitas. (foto: dok.Gede Dika)

 

Tak kurang ada 15 Kepala Keluarga (KK) di Lingkungan Pendem, Kelurahan Pendem, Kecamatan Negara, Jembrana, harus menghadapi risiko setiap hari karena terpaksa menggunakan jembatan bambu sebagai akses utama untuk beraktivitas.

KARENA memang itu adanya, jembatan darurat ini menjadi akses tercepat bagi warga, termasuk bagi para siswa yang pergi ke sekolah.

Kondisi ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, dan warga mengeluhkan bahaya yang mengancam, terutama saat musim hujan tiba dan debit air sungai meningkat.Tapi, usulan jembatan yang bagus, permanen, di tengah kondisi anggaran yang kembang-kempis lantaran efisiensi ini tidak mudah.

Kepala Lingkungan Pendem, Nyoman Nala, mengungkapkan bahwa jembatan tersebut merupakan satu-satunya jalur tercepat. Jika tidak menggunakan jembatan bambu, warga harus memutar melalui permukiman penduduk dengan jarak tempuh yang jauh lebih lama.

“Setiap hari memang banyak warga yang melintasi jembatan ini, karena merupakan akses jalan satu-satunya yang paling cepat. Ada akses jalan lain warga harus melewati rumah-rumah penduduk,” jelas Nala.

Sering Hanyut, Warga Swadaya Bangun Ulang

Jembatan yang terbuat dari bambu tersebut sering kali mengalami kerusakan, bahkan hanyut diterjang banjir. Karena kebutuhan akses yang mendesak, warga secara bergotong royong terpaksa membangun kembali jembatan menggunakan bahan bambu seadanya yang berada di pinggir sungai.

Karena ukurannya yang kecil dan kondisi yang rapuh, setiap orang harus bergantian saat melintas.

Warga Lingkungan Pendem berharap penuh agar pemerintah segera merealisasikan pembangunan jembatan permanen yang lebih kuat, minimal bisa dilalui oleh kendaraan roda dua.

"Kami beberapa kali mengusulkan bantuan, namun sampai saat ini belum juga ada realisasinya. Kami berharap ada jembatan permanen," tutupnya.[*]

Editor : Hari Puspita
#jembatan rusak #infrastruktur #jembrana #jembatan darurat