Tak kurang ada 15 Kepala Keluarga (KK) di Lingkungan Pendem, Kelurahan Pendem, Kecamatan Negara, Jembrana, harus menghadapi risiko setiap hari karena terpaksa menggunakan jembatan bambu sebagai akses utama untuk beraktivitas.
KARENA memang itu adanya, jembatan darurat ini menjadi akses tercepat bagi warga, termasuk bagi para siswa yang pergi ke sekolah.
Kondisi ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, dan warga mengeluhkan bahaya yang mengancam, terutama saat musim hujan tiba dan debit air sungai meningkat.Tapi, usulan jembatan yang bagus, permanen, di tengah kondisi anggaran yang kembang-kempis lantaran efisiensi ini tidak mudah.
Kepala Lingkungan Pendem, Nyoman Nala, mengungkapkan bahwa jembatan tersebut merupakan satu-satunya jalur tercepat. Jika tidak menggunakan jembatan bambu, warga harus memutar melalui permukiman penduduk dengan jarak tempuh yang jauh lebih lama.
“Setiap hari memang banyak warga yang melintasi jembatan ini, karena merupakan akses jalan satu-satunya yang paling cepat. Ada akses jalan lain warga harus melewati rumah-rumah penduduk,” jelas Nala.
Sering Hanyut, Warga Swadaya Bangun Ulang
Jembatan yang terbuat dari bambu tersebut sering kali mengalami kerusakan, bahkan hanyut diterjang banjir. Karena kebutuhan akses yang mendesak, warga secara bergotong royong terpaksa membangun kembali jembatan menggunakan bahan bambu seadanya yang berada di pinggir sungai.
Karena ukurannya yang kecil dan kondisi yang rapuh, setiap orang harus bergantian saat melintas.
Warga Lingkungan Pendem berharap penuh agar pemerintah segera merealisasikan pembangunan jembatan permanen yang lebih kuat, minimal bisa dilalui oleh kendaraan roda dua.
"Kami beberapa kali mengusulkan bantuan, namun sampai saat ini belum juga ada realisasinya. Kami berharap ada jembatan permanen," tutupnya.[*]
Editor : Hari Puspita