NEGARA, Radar Bali.id – Sektor perikanan tangkap di Jembrana mengalami pukulan telak tahun ini. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jembrana mencatat penurunan produksi ikan tangkap mencapai lebih dari 7.700 ton hingga Oktober, dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kepala DKP Jembrana, I Ketut Wardana Naya, mengungkapkan bahwa penurunan signifikan ini bukan disebabkan oleh isu pendangkalan kolam labuh di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan, melainkan karena faktor alam.
"Berdasarkan data, produksi hasil tangkap yang masuk dari Januari hingga Oktober tahun ini mencapai 15.043.016 kilogram (sekitar 15 ribu ton). Padahal periode yang sama tahun lalu mencapai 22.768.644 kilogram (sekitar 22 ribu ton). Penurunan ini lebih dari 7.700 ton," jelas Wardana Naya, Senin (9/12/2025).
Menurutnya, faktor utama anjloknya produksi adalah cuaca buruk yang intens terjadi selama setahun terakhir.
"Terjadi penurunan produksi akibat kondisi alam. Ketika cuaca buruk terjadi, banyak nelayan yang tidak berangkat melaut karena berisiko tinggi," tambahnya.
Wardana Naya menegaskan, meskipun pendangkalan di kolam labuh PPN Pengambengan memang terjadi dan menyulitkan proses sandar dan bongkar muat hasil tangkapan, hal itu tidak berpengaruh terhadap kuantitas produksi nelayan.
Ikan yang paling banyak diproduksi adalah ikan lemuru, yang mayoritas disuplai untuk memenuhi kebutuhan pabrik pengalengan ikan di Jembrana dan juga dikirim ke luar daerah.[*]
Editor : Hari Puspita